Foto : Arda Sitepu (Wawancara dengan Rusmawati)

Siang itu di penghujung tahun langit terlihat mendung, perjalanan yang akan ditempuh masih 40 km lagi. Membawa dua orang anak balita tidaklah mudah, sesekali mobil harus berhenti di tengah jalan untuk memenuhi permintaan si kecil.

Akses perjalanan menuju Serdang Berdagai saat ini sudah lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Apalagi saat dibuka tol menuju Sei Rampah yang merupakan ibukota Kabupaten Serdang Bedagai maka perjalanan menjadi lebih singkat.

Jam tangan sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB, mobil terus melaju agar dapat bertemu dengan sosok perempuan yang menaruh hati bagi masa depan anak nelayan di pesisir Serdang Bedagai. Pertemuan kali ini harus berhasil. Pasalnya, beberapa kali janji untuk bertemu sebelumnya gagal dikarenakan padatnya jadwal.

Melalui percakapan di telepon, kami pun berjanji untuk bertemu di sebuah toko oleh-oleh di sekitar Bengkel Perbaungan. Akhirnya tiba di sana sebelum Pukul 14.00 WIB. Anak-anak mulai kelelahan dan bersyukurnya, suami bersiap untuk menjaga dua balita yang lagi senang melatih kinestiknya.

Tak berapa lama, seorang wanita berkerudung dan berlensa merah datang. Perawakannya sederhana dengan outfit merah muda. Senyumnya penuh simpatik dan bersahabat. Oleh karena itu, saya tidak sungkan untuk langsung bersalaman dengannya.

Sambil menarik kursi, saya mengajak beliau duduk. Percakapan hangat pun dimulai. Tidak ada rasa canggung untuk bercakap-cakap dengan sosok perempuan ini. Seperti adik dan kakak, maka saya langsung menyapa dengan sebutan Kak Rus.

Berawal dari LSM Perempuan

Perempuan kelahiran Karang Anyar, 28 Juli 1976 itu bernama Rusmawati. Semenjak tahun 1994, ia sudah mengenal dan mempelajari sebuah LSM Perempuan yang bernama LSM HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia).

HAPSARI merupakan organisasi yang berfokus pada pedesaan, membangun sumber daya manusia terkhusus perempuan serta lingkungan desa. Setelah mengenal visi misi-nya maka di tahun 1995, Kak Rus terjun ke dalam organisasi tersebut dan mulai berpikir untuk memajukan sebuah desa yang berada di pesisir pantai Serdang Bedagai.

Namun di tahun 1996, Kak Rus harus berhenti ber-organisasi dikarenakan sang Ibu sakit dan meninggal dunia di akhir tahun 1996. Sempat vakum organisasi, di tahun 1999 Kak Rus kembali memulai niat-nya untuk membangun sumber daya sebuah desa.

Berbekal pengalaman di LSM HAPSARI, Kak Rus, mulai menapaki pesisir pantai Serdang Bedagai. Di tahun 90-an, daerah pesisir merupakan wilayah kategori abu-abu, di mana tingkat kemiskinan masih tinggi dan daerah ini perlu ditingkatkan kesejahteraannya dibanding daerah lain yang ada di sekitarnya.

Di usia 23 tahun, Kak Rus memberanikan diri untuk menerobos jalanan yang sepi, rusak, minim penerangan untuk sampai kepada Pekan Sialang Buah yang menjadi basis pertama untuk mendirikan Sanggar Belajar Anak.

Trauma Anak Pesisir

Pemilihan daerah pesisir sebagai tempat untuk mendidik anak khususnya di usia dini adalah karena berbagai trauma yang dirasakan anak-anak nelayan pesisir pantai. Dulu pesisir Serdang Bedagai masuk ke dalam wilayah Deli Serdang. Namun, karena cakupan wilayah Deli Serdang sangat luas maka daerah ini jarang sekali diperhatikan.

Perekonomian sangat lemah, sebagian besar mata pencarian penduduk adalah sebagai nelayan tradisional. Orang tua lelaki pergi ke laut untuk mencari ikan dengan pancing atau alat seadanya. Sedangkan si ibu menjadi Buruh Harian Lepas (BHL).

Penghasilan yang didapatkan sangat minim, sehingga ibu atau perempuan pada umumnya mencari tambahan seperti membersihkan sampan nelayan atau mencari sisa panen padi di kebun orang. Di samping itu, tak sedikit perempuan yang menyemat atap demi menambah penghasilan di tengah keluarga.

Kondisi ini membuat anak-anak yang masih balita harus terlantar dan dibiarkan bermain seharian. Orang tua mereka bekerja dari subuh hingga larut malam, sehingga anak usia 6 (enam) tahun sudah diberi tugas untuk menjaga dan mengurus adik-adiknya.

Foto : Kemdikbud.go.id (Masyarakat Pesisir Serdang Bedagai)

Anak-anak nelayan tumbuh tanpa arahan, bahkan banyak terjadi pernikahan di usia dini. Saat anak perempuan sudah memasuki usia 12 – 14 tahun, maka orang tua sudah menikahkan mereka agar dapat lepas tanggung jawab untuk mengurusnya. Pemahaman tentang anak hanya sampai pada melahirkan tidak berkelanjutan untuk mendidik dan mengarahkan.

Tak jarang juga anak mengalami trauma yang mendalam saat orang tua atau bapaknya meninggal dunia di laut. Tantangan di laut sangat berat, apalagi bersaing dengan kapal besar yang menggunakan pukat harimau untuk menjaring ikan.

Permasalahan nelayan tradisional dengan nelayan yang menggunakan pukat harimau mungkin sudah ada sejak dulu. Sehingga nelayan tradisional di tahun 90-an selalu tidak berdaya. Tak jarang sampan nelayan tradisional dengan sengaja ditabrak hingga pecah dan karam.

Keselamatan jiwa nelayan sangat dipertaruhkan, belum lagi hasil tangkapan yang tidak besar jika dibanding dengan pukat harimau yang juga dapat merusak biota laut. Kondisi ini menyebabkan trauma yang mendalam untuk anak-anak nelayan.

“Keluarga nelayan itu kondisinya sangat miris, penghasilan kecil, keselamatan jiwa terancam jika bertemu kapal besar. Tidak ada jaminan keselamatan saat pergi ke laut. Jika suaminya meninggal di laut, maka sang istri akan stres dan beban hidup ditanggung olehnya dan anak-anak pun semakin terlantar.”

Keprihatinan akan istri dan anak-anak nelayan ini, Kak Rus membulatkan tekad agar anak-anak nelayan dapat lebih diperhatikan, dididik serta diberikan motivasi. Karena anak-anak memiliki hak untuk bermain, hak untuk bahagia dan mendapatkan kesejahteraan.

Medan Terjal Menuju Pesisir

Kondisi jalan menuju pesisir ternyata tidak semudah yang dibayangkan Kak Rus. Pertama kali datang ke pesisir dengan motor butut-nya beberapa kali harus terjebak di jalan. Apalagi saat hujan turun, jalanan menjadi licin, banyak genangan air.

“Tidak semua orang sanggup masuk ke daerah pesisir. Akses jalan yang sangat buruk, medan-nya sangat sulit ditempuh, banyak semak-semak. Apalagi pada saat itu saya seorang perempuan, ya modal doa saja.”

Sejujurnya, saya sendiri sebagai perempuan membayangkan perjalanan Kak Rus tentunya sangat sulit. Tidak semua perempuan berani melakukan dan menempuh jalan seperti ini, di mana sepanjang jalan jarak rumah yang satu dengan yang lain berjauhan. Penerangan jalan sangat minim dan sepulang dari pesisir sekitar Pukul 17.30 WIB dan kadang sampai di rumah menjelang magrib.

Tak jarang Kak Rus menginap di rumah penduduk karena kondisi jalan yang tidak mendukung. Di samping itu, alasan untuk menginap di rumah agar mengenal lebih dekat keluarga nelayan dan berbagai aktivitas yang dilakukan dari pagi hingga malam.

Hari lepas hari, perjalanan ini dilalui tanpa ada rasa jenuh. Setiap pulang dari daerah pesisir Kak Rus selalu merenung, apakah usaha yang dilakukan akan membuahkan hasil. Selain jalan yang sulit ditempuh, ternyata sebagian masyarakat desa juga menganggap usaha yang dilakukan perempuan yang memiliki 7 orang anak ini adalah ilegal.

Setiap bertemu dengan beberapa ibu, mereka menganggap bahwa kegiatan mendidik anak harusnya peran pemerintah bukan seseorang atau kelompok. Namun, apapun kendala yang datang, Kak Rus tetap berusaha dan optimis bahwa apa yang dilakukannya akan bermanfaat kelak bagi keluarga nelayan.

Perjuangan Berbuah SBA (Sanggar Belajar Anak)

Desa pertama yang didatangi Kak Rus saat itu adalah Pekan Sialang Buah. Desa yang mayoritas penduduknya sebagai nelayan. Setelah beberapa kali melakukan pendekatan dengan penduduk, berdiskusi dengan para ibu dan berbagai usaha yang dilakukan akhirnya di tahun 2003 berdiri Sanggar Belajar Anak (SBA).

“Anak-anak nelayan ini harus diselamatkan, walaupun usaha yang dilakukan cukup sulit, saya bersyukur di tahun 2003 sudah berdiri sebuah Sanggar Belajar di Pekan Sialang Buah.”

Saat saya bertanya, bagaimana pengalaman pertama akhirnya SBA berdiri, terlihat mata Kak Rus mulai berkaca-kaca, mengenang puluhan tahun lalu saat berjuang bersama teman-teman untuk bisa menolong anak-anak nelayan di pesisir pantai. Kak Rus menyampaikan bahwa masih sedikit orang yang peduli dengan masyarakat di luar sana yang sangat membutuhkan kasih sayang dan pertolongan.

Awal mula anak-anak belajar di teras Musholla Al Ikhlas sekitar 6 (enam) bulan. Kemudian Kak Rus bersama teman menghimpun dana secara sosial untuk membangun sebuah gedung yang sederhana.

“Alhamdulillah selain uang hasil Infaq dan Sedekah maka terhimpun dana dari warga setempat. Saat itu terkumpul 2,5 Juta, bersyukur pula dari masyarakat setempat ada yang menyumbang paku, semen, batang kelapa, kayu dan ada juga yang menyumbang tenaga untuk menyemat atap gedung Sanggar Belajar Anak yang kita dirikan.”

Akhirnya, jadilah gedung Sanggar Belajar Anak yang sederhana dan saat itu ada 40 anak yang menjadi anak didik dimulai dari usia 3-6 tahun. Pendekatan Kak Rus dan teman-teman yang dilakukan kepada anak-anak pada saat itu adalah pendekatan secara emosi.

Banyak anak nelayan yang trauma karena orang tua yang meninggal di laut, tak hanya itu kekerasan juga terjadi. Apalagi jika orang tua yang tidak mendapatkan penghasilan maka anak-anak menjadi korban kekerasan.  

Metode yang dilakukan Kak Rus adalah membuka diri, menemani anak-anak dengan tulus. Menganggap semua anak didik sebagai anak sendiri dan menyayangi mereka dengan sepenuh hati.

Foto : Rusmawati (KB. Mekar Hidayah Desa Kota Pari kec. Pantai Cermin Tahun 2011)

Alhasil dengan perjuangan Kak Rus bersama teman-teman seperti Ibu Murni, Ibu Ema Salmah, Ibu Mardiana, Ibu Lely, Pak Agus, Ibu Yanti serta Kepala Dusun pada saat itu, maka berdiri 11 sanggar yang berada 4 kecamatan:

  1. Kecamatan Pantai Cermin : Kelompok Bermain (KB) Mekar Hidayah
  2. Kecamatan Teluk Mengkudu : KB Melati, Pasir Putih, Assyiddiq, Arrahim, Assyakirin dan Arrahman.
  3. Kecamatan Tanjung Beringin : KB Arrahman
  4. Kecamatan Perbaungan : KB Assyiddiq, Aisyiyah dan Melati

Sejak semula, niat dan harapan Kak Rus dan teman-teman adalah ingin mendirikan ruang belajar untuk anak usia dini sehingga dinamakan Sanggar Belajar Anak. Ternyata, terdapat undang-undang yang mengatur tentang pemberian nama untuk pendidikan luar sekolah sehingga Sanggar Belajar Anak diubah menjadi Kelompok Bermain. Semenjak tahun 2009, 2014 serta 2018 pengelolaan Kelompok Bermain tersebut secara keseluruhan diserahkan kepada Pemerintahan Desa atau beberapa guru yang sudah mampu mengelola Kelompok Bermain tersebut.

Foto : Rusmawati (KB.As – Syiddiq bersama anak-anak Kelompok Bermain)

Berdirinya Serikat Perempuan Petani Nelayan (SPPN)

Berkembangnya Sanggar Belajar Anak yang saat ini dikenal dengan Kelompok Bermain, menjadi peluang bagi Kak Rus dan teman-teman untuk melakukan pendekatan kepada orang tua terkhusus para ibu. Banyaknya keluhan para ibu menjadi motivasi bagi Kak Rus dan kaum perempuan lainnya untuk mendirikan sebuah serikat yang bernama Serikat Perempuan Petani Nelayan (SPPN).

Organisasi ini berdiri pada tanggal 7 Oktober 2004, sehingga pada tahun tersebut Kak Rus sebagai penggagas dan menjadi ketua dari SPPN. Anak-anak menjadi entry point bagi Kak Rus sehingga mampu mendekati para ibu nelayan untuk dilatih dan dididik terhadap kesadaran kritis serta haknya sebagai perempuan di tengah masyarakat.

Foto : Rusmawati (Kegiatan SPPN, mendidik melalui Sanggar Belajar, Diskusi Rutin, Kewirausahaan dan Kesehatan)

SPPN juga hadir sebagai jembatan para ibu untuk dapat memperjuangkan hidup nya untuk lebih baik. Membangun kewirausahaan serta SPPN menjadi penghubung dengan pemerintah setempat dalam pengembangan sumber daya manusia di daerah pesisir Serdang Bedagai.

Seperti contoh, SPPN mengajak Dinas Perikanan dan Kelautan untuk memberikan pelatihan kepada perempuan pesisir berwirausaha. Seperti daun jeruju yang diolah menjadi makanan ringan, buah mangrove diolah menjadi minuman segar serta jenis usaha lainnya.   

Di samping itu, SPPN juga tetap memperhatikan perkembangan Kelompok Bermain yang berada di setiap kecamatan. Sehingga tetap menjadi penghubung ke pemerintah dalam menyalurkan berbagai bantuan.

Tahun 2015, Kelompok Bermain mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp4.000.000 – Rp5.000.000,- namun pada saat itu hanya dua sekolah yang mendapat bantuan. Tahun 2017 hingga sekarang mendapat Bantuan Operasional Penyelenggaraan yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah murid di setiap Kelompok Bermain.

Foto : Rusmawati (Wisuda Awal Sanggar Belajar Anak)

Semua Orang adalah Guru dan Semua Tempat adalah Sekolah

Tak terasa hampir 1,5 jam, saya bercakap-cakap dengan Kak Rus. Terlihat dari wajahnya yang lembut dan semangat untuk menceritakan perjuangan dalam membangun pendidikan untuk anak-anak nelayan di Serdang Bedagai.

Satu hal yang membuat saya tertegun adalah ketika Kak Rus menyampaikan bahwa Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia merupakan motivator terbesar dalam hidupnya.

“Semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Hal ini yang membuat saya selalu bersemangat saat melangkahkan kaki ke daerah pesisir. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk mengajar dan dimana pun dapat dijadikan tempat untuk belajar.”

Foto : Rusmawati (Foto bersama Tenaga Pengajar KB.As-Syiddiq)

Oleh karena itu, tenaga pengajar yang semula membantu Kak Rus untuk mendidik anak-anak di tahun 90-an adalah ibu rumah tangga atau perempuan desa yang memberi hati dan memiliki kepedulian terhadap anak-anak. Bahkan guru di jaman itu, tidak tamat Sekolah Dasar namun memiliki talenta yang luar biasa untuk mengasuh anak.

Berjalannya waktu serta jaringan yang dibangun melalui SPPN, maka guru-guru yang tidak sekolah tersebut termotivasi untuk kembali bersekolah. Hal yang dilakukan Kak Rus adalah mendaftarkan guru-guru tersebut untuk mengejar paket A dan paket B. Akhirnya, sampai saat ini sudah ada dua guru yang menyelesaikan perguruan tinggi.

Anak-anak adalah Masa Depan Bangsa Indonesia

Di akhir pembicaraan, wanita yang sedari kecil bercita-cita menjadi seorang guru ini menyampaikan harapannya pada pemerintah untuk lebih peka terhadap anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa. Kak Rus menyampaikan bahwa anak Indonesia harus diselamatkan.

Apalagi di era digital saat ini anak-anak pesisir sudah terkontaminasi dengan situs-situs terlarang. Belum lagi, narkoba sudah marak di daerah pesisir sehingga pencabulan, bulying dan kekerasan seksual pada anak sering terjadi.  

“Saya sangat berharap hadirnya Kelompok Bermain di daerah pesisir pantai mampu membantu anak-anak untuk lebih menjaga diri. Selama 2,5 jam kami bisa menjaga dan memberikan kasih sayang serta mengarahkan orang tua untuk mendidik anak sebagai penerus keluarga agar kehidupan mereka lebih baik di masa depan.”

Anak-anak dari keluarga pesisir pantai juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak di belahan bumi manapun. Sehingga perjuangan yang dilakukan Kak Rus menjadi motivasi generasi muda saat ini bahwa setiap orang dituntut menjadi ‘khalifah’ dan selalu berbuat tulus kepada semua orang.

Apa yang dilakukan Kak Rus, mendapatkan penghargaan dari pemerintah dan menerima Apresiasi Bidang Pendidikan di Satu Indonesia Awards Tahun 2011. Saat ditanya, bagaimana perasaan menerima penghargaan tersebut maka Kak Rus menjawab bahwa dia tidak pernah menyangka mendapat penghargaan tersebut karena apa yang dilakukan hanya karena ingin anak-anak nelayan di pesisir dapat terarah dan terdidik dengan baik.

Foto : Rusmawati (Acara Satu Indonesia Awards 2019 Menjadi Pembicara & Menebar Inspirasi di Palembang)

Hari ini, saya sebagai perempuan mendapat banyak pelajaran berharga dari sosok Rusmawati. Seorang yang sederhana namun memiliki kekayaan hati dan selalu menaruh kasih sayang untuk anak-anak di sekitar pesisir Serdang Begadai. Sebagai generasi muda, saya mulai berpikir berbuat apa untuk lingkungan sekitar saya.

#KitaSatuIndonesia

#IndonesiaBicaraBaik

Foto : Arda Sitepu (Foto Bersama Rusmawati, Sosok Pejuang Pendidikan Anak Nelayan Pesisir Serdang Bedagai)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2019


90 Comments

Aorlin · January 1, 2020 at 6:37 pm

Miris sekali 🙁
Sehat selalu ya bu guru.

ginanelwan · January 2, 2020 at 9:03 am

Respect banget sama orang-orang yang memiliki dedikasi untuk orang banyak. Salute untuk KaK Rus

    Nufazee · January 4, 2020 at 7:01 am

    Aih inspiratif kali kak tak semua perempuan bisa kayak kak Rus ini ya, saluut

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:13 pm

    Iya dedikasinya untuk anak-anak nelayan di usia muda.

NurulRahma · January 2, 2020 at 9:35 am

Kak Rus luarrr biasaaaa!
Banyak Inspirasi yg ditebarkan oleh sosok penuh dedikasi untuk Republik ini.
Semogaaaaa ke depannya ASTRA terus mengapresiasi dan memberikan support terbaik, yha

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:13 pm

    Iya kak, saya sampai terkesima apa yang dia kerjakan dan berguna untuk anak nelayan sampai saat ini.

      NurulRahma · January 22, 2020 at 11:33 am

      Duh, semogaaaaa tulisan ini juga mendapatkan takdir terbaik ya Mbaaa

Mechta · January 2, 2020 at 1:21 pm

Mba Arda, salam untuk Kak Rus ya.. Salut sekali akan perjuangannya tanpa lelah meningkatkan pendidikan anak nelayan dan juga kesejahteraan wanita nelayan. Barakallah, Kak Rus!

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:14 pm

    Iya mbak, pendidikan anak nelayan di pesisir pantai yang jarang sekali tersentuh.

    Sani · January 8, 2020 at 3:32 pm

    Aku kira tadinya kak Ros ipin upin hehe
    Inspiring…, Perempuan hebat yg berdedikasi buat kemajuan kampung pesisir nelayan hehe

Linimasaade · January 3, 2020 at 7:56 am

Mbak aku terenyuh baca ceritanya. begitu besar perjuangan beliau untuk membangun pendidikan di pesisir. Salut sama perjuangan beliau. Semoga di pesisir lain juga mengikuti jejask beliau.

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:15 pm

    Itu doa kita kak untuk di setiap daerah ada pejuang wanita seperti kak Rus ini.

Shyntako · January 3, 2020 at 11:44 am

Salut sama Kak Rus yang punya kepedulian tinggi dan mengabdikan diri untuk pendidikan anak-anak nelayan ya mba. Semoga banyak donatur dan otoritas setempat yang tergerak untuk membantu dan memfasilitasi ya mbak.

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:15 pm

    Amin, semoga banyak yang membantu karya yang sudah ditanamkan Kak Rus.

Uniek Kaswarganti · January 3, 2020 at 11:03 pm

Sungguh luar biasa Ibu Rus ini, dengan semangat memperbaiki kondisi anak-anak di desa nelayan. Meskipun tantangannya berat, beliau pantang menyerah. Wajah kalau Ibu Rus mendapatkan penghargaan atas jasa beliau dalam dunia pendidikan ini.

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:16 pm

    Iya mbak, wajar sekali dan memang beliau juga enggak nyangka menang karena memang tulus sekali.

      Uniek Kaswarganti · January 24, 2020 at 5:20 am

      Sampai saat ini beliau masih aktif ya mba? Salam hangat untuk beliau yaa..
      Semoga makin banyak Kak Rus yang lain di Indonesia ini, agar makin banyak anak-anak di wilayah yang belum terjangkau pendidikan bisa ikut juga merasakan aliran ilmu yang diberikan secara tulus.

Yuni · January 4, 2020 at 12:07 am

Waaah, sosok wanita inspiratif. Betapa berlikunya perjuangan Kak Ros dalam mengupayakan kehidupan yang lebih baik bagi warga kampung nelayan. Pasti tak mudah untuk bisa seperti saat ini. Semoga apa yang dilakukan kak Ros mampu menjadi teladan bagi wanita-wanita lain untuk mengikuti jejaknya memajukan daerah tertinggal.

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:16 pm

    Teladan untuk wanita lain terkhusus milenial Indonesia mbak.

lita chan lai · January 4, 2020 at 12:32 am

wah, perjuangan kak rus hebat sekali. kalau saya di posisi kak rus kayanya bakalan nyeras deh. tapi kak rus tetap berjuang. dan hasilnya sangat terlihat. ini bisa dijadikan inspirasi buat kita semua.

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:16 pm

    Saya juga mulai berpikir mau buat apa ya untuk negeri ini.

Rach Alida · January 4, 2020 at 1:21 am

Apa yang dilakukan oleh kak Rus sungguh perjuangan tiada tara.. Tak mudah memang mba untuk berbagi dan menginspirasi seperti ini. Tetap semangat kak Rus

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:17 pm

    Semoga kak Rus selalu diberikan kesehatan dan tetap menjadi berkat.

Lina W. Sasmita · January 4, 2020 at 4:17 am

Luar biasa perjuangan ibu Rus. Jarang dan mungkin hanya satu dari seribu bahkan ratusan ribu orang yang memiliki niat juang seperti beliau. Semoga senantiasa diberi kesehatan dan kelimpahan rejeki Bu Rus.

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:17 pm

    Niatnya luar biasa mbak, aku ga bisa bayangin keberanian menempuh jalan yg laki2 pun belum tentu berani.

Indah Nuria · January 4, 2020 at 5:14 am

Luar biasa yaa perjuangan dan dedikasi Kak Rus.. terus menjadi inspirasi bagi kita semua

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:18 pm

    Yup benar mbak. Semoga tetap menginspirasi.

Rini Novitasari · January 4, 2020 at 3:06 pm

kak rus dan mbak arda sama2 hebat dibidangnya masing2,,

salut sama perjuangan kak rus demi pendidiikan para anak nelayan,, di desaku, kehidupan anak2 nelayan emang masih terbilang menyedihkan kak..

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:18 pm

    Iya ya mbak, aku juga tersadar kalau anak nelayan ini butuh sekali diperhatikan.

Prita HW · January 4, 2020 at 3:14 pm

Barakallahu buat Kak Rus dan tim. Semoga tulisan ini bs sampai dibaca para pembuat kebijakan agar benar2 menaruh perhatian pada urusan rakyatnya. Sejatinya org2 seperti Kak Rus hanyalah katalisator utk perubahan yg lbh besar. Semoga. Aamin.

    ardasitepu · January 5, 2020 at 6:11 pm

    Amin mbak, saya juga salut banget dengan Kak Rus.

Vivi · January 6, 2020 at 3:55 am

memang agak miris ya..
Mner oendapat saya, anak nelayan itu pastinya adalah anak yg cerdas, karena mereka setiap hari mengkonsumsi ikan.
Apalah daya, fasilitas pendidikan ke daerah pesisir masih sulit.
Semoga pemerintah makin concern ke pendididkan anak pesisir dan banyak kak rus – kak rus lain yang turun tangan

    ardasitepu · January 22, 2020 at 8:43 am

    Iya mbak aku juga berpikir seperti itu cuma memang kurang mendapat perhatian lebih.

Icha Marina Elliza · January 7, 2020 at 8:51 am

Kak Rus sangat luar biasa. Perawakannya kecil, namun besar manfaatnya bagi orang banyak. Mudah-mudahan sehat terus dan apa yang diusahakannya menjadi keberkahan bagi orang banyak.

    ardasitepu · January 22, 2020 at 8:42 am

    Setuju kak Icha. Semoga apa yang dilakukan Kak Rus menjadi berkah.

Julita · January 7, 2020 at 9:30 am

Semoga tulisan ini bisa bisa memotivasi banyak orang Amin

Fajar Kaos Polos · January 11, 2020 at 3:47 am

Pekerjaan mulia, yang seperti ibu ini sudah jarang ditemukan.. semoga usaha mencerdaskan anak diperdalaman semakin berarti..

    ardasitepu · January 22, 2020 at 8:42 am

    Semoga semakin banyak jejak Kak Rus di manapun.

      Riawani elyta · January 22, 2020 at 2:35 pm

      Semoga semakin banyak wanita2 inspiratif seperti kak Rus dan kian banyak yg termotivasi utk meneladani perjuangannya

Nurhilmiyah · January 13, 2020 at 2:52 am

Sungguh mulia perjuangan Kak Rus ya,, kapan² pingin mengadakan pengabdian masyarakatlah di sana. Jd Kelompok Bermain ini di bawah LSM Hapsari ya. Makasih atas ulasannya ini yaa Kak Arda, berfaedah sekali.

Desy zulfiani · January 13, 2020 at 6:31 am

Sepertinya pernah berjumpa dgn kk rus inilah tapi dimana ya,, semoga terus menginspirasi ya kkk

    ardasitepu · January 22, 2020 at 8:41 am

    Kak Rus ini anak serdang berdagai kk.

lance · January 14, 2020 at 5:16 am

kak rus masyaAllah tabarakallah, semoga makin banyak yang dapat menginspirasi ya kak khususnya di sumut kita ini

    ardasitepu · January 22, 2020 at 8:41 am

    Iya setuju kali kak. Semoga makin banyak milenial yang mengikuti jejak kak rus.

Mporatne · January 22, 2020 at 8:48 am

Pendidikan pondasi bagi anak bangsa untuk maju dan
peran dari kak rus inilah yang akan membuat daerah terpencil jadi mengenal pendidikan. Maju terus kakak Rus

    ardasitepu · January 22, 2020 at 8:54 am

    Terima kasih Mpok, semoga semakin banyak generasi penerus Kak Rus di saat ini.

Mugniar · January 22, 2020 at 1:12 pm

Butuh ketulusan untuk dapat berbagi dengan banyak orang ya. Meskipun ada keterbatasan, itu bukan halangan yang penting bersungguh-sungguh.

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:36 pm

    Iya kk, keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk selalu melakukan yang terbaik.

Tetty Hermawati · January 22, 2020 at 4:36 pm

aku suka udah ga tahan sama pemberitaan soal bayi dan anak, apalagi anak yang tertindas, miskin, dll.Sedih, sedih banget kalau tau kondisi mereka, salut bgt buat pejuang pendidikan dan pemberdayaan macam kak Rus

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:35 pm

    Iya mbak pejuang pendidikan dan pemberdayaan wanita.

Nchie Hanie · January 22, 2020 at 6:19 pm

Huhuuu, kasian banget ya anak2 usia 12 kalo udah dinikahkan hiks.
Semoga perjuangan Kak Rus berkah karena sudah berbagi buat anak2 nelayan. Semangat KAk Rus!

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:35 pm

    Iya mbak, semoga perjuangannya banyak yang melihat dan mengikuti.

herva yulyanti · January 23, 2020 at 2:53 am

Salut dengan dedikasi dan perjuangannya KAk RUS, aku kok merasa tertampar ya bacanya aku bisa apa huhuhu jadi malu 🙁 semoga akan banyak kak Rus lainnya nih

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:35 pm

    Iya mbak Herva semoga banyak yang bisa meniru dedikasi beliau.

Desy okafia · January 23, 2020 at 8:06 am

Sosoknya bikin haru.
Di jaman yang empati aja terasa mahal,
Masih ada orang yang berjuang untuk hidup anak pesisir.
Semoga segala perubahan yang dilakukan membawa kebaikan
Hiks.
Haruuuuu

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:25 pm

    Iya mbak, semoga kebaikan Kak Rus berbuah baik juga untuk anak-anak nelayan serta kehidupan keluarga Kak Rus.

Jiah Al Jafara · January 23, 2020 at 1:05 pm

Semiga banyak Kak Rus lain yang mau berbagi ilmunya. Dan semoga semua anak Indonesia terjamin pendidikannya. Aku termasuk anak pesisir tapi bukan anak nelayan. Ada saudara yang nelayan juga dan pernah terbawa ombak sampai laut di daerah lain

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:25 pm

    Amin mbak dan memang menjadi perhatian sekali untuk anak-anak di pesisir pantai ini.

Keke Naima · January 23, 2020 at 3:35 pm

Saya merasa sedih membayangkan anak usia 6 tahun udah dikasih tanggung jawab begitu besar. Menjaga adik bukanlah hal mudah. Tetapi, itulah kenyataan di beberapa tempat. Apal yang dilakukan Kak Rus ini menginspirasi sekali

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:24 pm

    Anak kecil sudah mendapat tanggung jawab yang besar mbak e, itulah kondisinya.

Lidya · January 24, 2020 at 12:29 am

Waktu menghadiri acara Panen Raya di Jakarta kedatanga serikat perempuan nelayan sedih denger mereka cerita. Tapi sekarang mereka teredukasi ya selama menunggu para suami mencari ikan di laut banyak hal yang bisa mereka kerjakan juga. Kak Rus hebat juga nih perjuangannya

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:24 pm

    Iya mbak saya juga kemarin sampai enggak tahu harus bagaimana karena saya mikir udah buat apa untuk negeri ini.

Siti Hairul · January 24, 2020 at 12:45 am

Aku senang baca liputan ini. Masih banyak ya ternyata perempuan Indonesia yang hebat dan luar biasa. Berbakti untuk negeri dan menginspirasi perempuan lain

Jeanette Agatha · January 24, 2020 at 1:09 am

Miris banget baca kondisi anak2 nelayan disana
Untung ada Ka Rus yang terpanggil utk anak2 ini. Jadi mereka bisa belajar untuk masa depannya. Semangat terus untuk team SBA, smoga semakin banyak anak2 nelayN yang bisa sukses. Amin

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:23 pm

    Iya mbak bener banget dan banyak yang terjadi seperti ini.

Dewa Ayu Inda · January 24, 2020 at 2:13 am

memang kok kalau jiwanya sudah mengabdi, jiwa ingin mendidik mau ngajar dimana aja akan dijabanin temen saya mengabdi di lombok rela meninggalkan keluarga dan menunda pernikahan demi menunaikan tugas mencerdaskan anak bangsa. Salut kepada pahlawan tanda jasa 🙂

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:22 pm

    Pahlawan yang tulus tanpa embel2 mbak.

Ida Raihan · January 24, 2020 at 2:51 am

Takjub selalu buat mereka yang senang memperjuangkan pendidikan. Semoga sehat terus ya Bu Rus. Kelak perjuangannya membawa hasil yang membahagiakan.

Ida · January 24, 2020 at 2:58 am

Mantaps nih jarang yg mempunyai.kekuatan semangat mengabdi seperti.ini ya..semoga sehat terus Bu Rus

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:22 pm

    Iya mbak Ida, memang mengabdi untuk negeri banget.

Silviana · January 24, 2020 at 3:59 am

Wanita- wanita yang menginspirasi, wajahnya selalu cerah dan menyenangkan. Keren banget pengabdiannya, salam hormat untuk beliau ya mbaak.

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:21 pm

    Amin kak dan berharap banyak yang mencontoh apa yang sudah dilakukan Kak Rus.

Yoanna Fayza · January 24, 2020 at 4:11 am

Luar biasa pengabdiannya yaa, semoga kak Rus dan keluarga diberkahi umur panjang da hidup bahagia, sealu salut dengan sosok perempuan inspiratif seperti beliau 🙂

Siska Dwyta · January 24, 2020 at 4:47 am

Kisahnya kak Rus ini menginspirasi sekali ya Mbak. Demi kepeduliannya terhadap masyarakat terutama anak2 yang tinggal di daerah pesisir beliau rela menempuh medan yang tak mudah. salut dengan perjuangannya.

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:21 pm

    Iya mbak Siska, aku sampai enggak habis pikir bisa ya ada sampai menaruh hati yang begitu dalam untuk pendidikan anak-anak nelayan.

nyi Penengah Dewanti · January 24, 2020 at 5:33 am

Semoga diberikan kesehatan dan kebahagiaan selalu untuk kak Rus ya Mba Arda
barokallah bisa belajar banyak dari beliau ya Mba.

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:20 pm

    Amin Mbak Nyi, ini yang menjadi harapan kita semua.

Noorma · January 24, 2020 at 5:39 am

Salam kagum utk kak Rus ya kak. Orang2 macam kak Rus ini harus banyak. Utk Indonesia maju.

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:20 pm

    Iya bener sekali mbak, memang sebagai anakmuda kita bisa menjadi contoh.

Rini Novitasari · January 24, 2020 at 11:47 am

Luar biasa kak smpe bisa membuat 11 sanggar yang bisa diberdayakan… Salut saya.. Salam buat kak russ ya mbak ardaa

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:19 pm

    Makasih Mbal Rini, nanti kalau bertemu aku sampaikan salamnya.

EkaRahmawati · January 27, 2020 at 3:44 am

Wah kagum saya sama mba Rusmawati. Sungguh benar-benar menginspirasi. Kadang saya tuh suka salut sama orang-orang seperti mba Rusmawati yang benar-benar peduli sama masa depan anak-anak. Semoga Mba Rusmawati selalu diberikan kesehatan ya

    ardasitepu · February 4, 2020 at 2:19 pm

    Iya mbak, semoga kita juga bisa mencontoh segala hal yang sudah dilakukan Kak Rus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!