Kejahatan Siber

Minggu lalu, saya mendapat panggilan telepon dari ibu yang menanyakan pengumuman yang mengatasnamakan dari BRI melalui WhatsApp. Pasalnya, ibu saya khawatir jika tidak membalas WhatsApp tersebut maka secara tidak langsung akan menyetujui perubahan tarif transfer bank ke bank lain senilai Rp150.000 dan di debit dari rekening.

Hal ini membuat ibu saya bingung karena dengan usia yang tidak muda lagi maka sangat sulit mengikuti perkembangan teknologi dengan baik. Apalagi pernah mengalami transaksi penipuan melalui panggilan telepon sehingga habis menguras tabungan.

Penipuan atas nama BRI

Kejadian tersebut membuat ibu trauma jika berkaitan dengan transaksi bank. Apalagi sebagai nasabah BRI puluhan tahun tentunya penipuan atau kejahatan siber tidak sehebat saat ini.

Oleh karena itu, saya menyampaikan setiap yang berhubungan dengan transaksi atau informasi bank sebaiknya langsung ditanyakan ke bank dan bukan melalui WhatsApp. Apalagi pengumuman berasal dari WhatsApp dengan nomor pribadi bukan official bank yang membuat adanya kecurigaan atau pun kejahatan pencurian data dan sebagainya.

Berdasarkan pengalaman ibu, tentunya saya berpikir bahwa masih banyak orang-orang yang akan mudah tertipu dengan berbagai pesan yang sampai melalui nomor handphone. Apalagi mengetahui data serta nasabah di bank tertentu.

Kejahatan Siber Menggurita

Dewasa ini kejahatan siber semakin pesat, apalagi dengan perkembangan dunia digital sehingga memudahkan banyak oknum atau kelompok untuk menguras tabungan atau dana yang ada di bank. Seperti di langsir dari berita online www.cnnindonesia.com bahwa Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bahwa lebih dari 700 juta serangan siber terjadi di Indonesia pada tahun 2022.

Serangan siber paling tinggi terjadi pada bulan Januari 2022 dengan angka 272.962.734. Serangan siber yang mendominasi adalah malware dengan modus minta tebusan. Di samping itu, terdapat beberapa jenis kejahatan siber lainnya seperti metode phishing atau peretasan.

Kejahatan siber yang menghampiri Indonesia semakin menjadi-jadi apalagi saat menyerang beberapa lembaga akademik dan pemerintahan. Seperti yang dilakukan oleh hacker Bjorka yang menjadi sorotan publik karena meretas berbagai data pemerintahan dan petinggi negara.

Tentunya yang dinamakan kejahatan akan merugikan banyak pihak. Terlebih untuk kerahasiaan data mau pun penyalahgunaan data yang didapatkan oleh si hacker atau oknum penipuan.

Kejahatan Siber

Berikut 9 (sembilan) jenis kejahatan siber yang umumnya terjadi dan membahayakan bagi berbagai pihak:

1. Phishing

Salah satu bentuk kejahatan siber yang sering terjadi saat ini adalah Phising di mana kejahatan ini bertujuan untuk mencuri informasi dan data pribadi dari email, telepon, pesan teks atau link palsu yang mengaku sebagai instansi atau pihak-pihak tertentu.

2. Spoofing

Kejahatan siber berikutnya adalah spoofing yaitu penyamaran informasi seakan-akan berperan sebagai pihak berwenang, seperti dari bank atau pemerintah untuk kejahatan siber. Hal ini sama seperti kejadian yang dialami ibu saya, yaitu mendapatkan pesan melalui WhatsApp dengan mengatasnamakan bank.

3. Ransomware

Kejahatan siber ini menargetkan perangkat keras untuk mengambil informasi berharga dari berbagai target kemudian mengenkripsi dan mengunci file tersebut. Umumnya, pelaku akan meminta tebusan ke korban untuk membuka kembali data yang sudah di kunci.

4. Cracking

Cracking biasa dilakukan dengan percobaan memasuki sistem komputer secara terpaksa dengan meretas sistem keamanan software atau komputer untuk tujuan ilegal.  

5. Carding

Kejahatan dilakukan dengan dengan mencuri data atau informasi kartu kredit milik orang lain. Data tersebut digunakan untuk melakukan transaksi atau mencairkan limit saldo. Beberapa kasus yang terjadi sangat merugikan bahkan disalahgunakan untuk pembelian barang-barang tertentu.

6. Peretasan Situs dan Email

Kejahatan yang paling banyak dan populer adalah peretasan situs dan email. Beberapa waktu lalu, website saya juga pernah diretas namun dapat kembali dengan bantuan dari penyedia jasa website.

7. Penipuan OTP

One Time Password atau yang dikenal sebagai OTP mungkin tidak asing lagi bagi pengguna aplikasi online. Apalagi untuk aplikasi berbelanja online, pebankan dan lain sebagainya. OTP berfungsi sebagai password sekali pakai untuk melakukan proses verifikasi di setiap aplikasi yanga ada dalam smartphone. Pelaku kejahatan siber berusaha untuk mencuri OTP sehingga masyarakat diharapkan tidak dengan sembarang memberikan kode OTP kepada orang lain.

8. Pemalsuan Identitas

Pemalsuan identitas yang bertujuan untuk memanfaatkan identitas palsu untuk melakukan kejahatan atau tujuan kriminal. Apalagi mempercayakan orang lain dalam jasa-jasa tertentu seperti jasa penbuatan rekening dan sebagainya.

9. Rekayasa Sosial

Rekayasa sosial atau social engineering (soceng) merupakan tindakan memanipulasi seseorang dengan memanfaatkan kesalahan dari setiap pemilik data. Di mana masyarakat memberikan data atau informasi yang bersifat rahasia. Sama halnya dengan spoofing bahwa pelaku biasanya menyamar menjadi pihak yang berwenang sehingga korban memberikan data tersebut.

Kerugian Kejahatan Siber

Kesembilan kejahatan siber tersebut menjadi ancaman bagi masyarakat apalagi yang tidak mengerti dan paham dunia digital. Jarang membuka berita mengenai penipuan online dan lain sebagainya.

Terlebih untuk orang tua yang sudah lanjut usia atau masa pensiun serta menjadi seorang nasabah bank. Untuk itu, diperlukan pemahaman lebih lanjut serta literasi yang mendukung masyarakat agar terhindar dari kejahatan siber.

Jika tidak membaca dan memahami literasi khususnya secara digital maka akan menimbulkan kerugian untuk diri sendiri. Menurut Internet Crime Complaint Center (IC3) bahwa kerugian kejahatan siber pada tahun 2017 mencapai US$1,4 miliar dan nilai kerugian terus meningkat hingga mencapai US$ 6,9 miliar pada tahun 2021.

Dari berbagai kasus kejahatan siber maka yang paling tertinggi adalah penipuan. Platform terbanyak yang digunakan untuk melakukan penipuan adalah menggunakan aplikasi WhatsApp.

Terkhusus untuk kasus-kasus yang marak akhir-akhir ini yaitu penipuan dan penyebaran link palsu dengan mengatasnamakan bank seperti BRI. Alhasil, diharapkan semua masyarakat menjadi bijak dalam memahami sebuah kejahatan siber.

Melindungi dari Kejahatan SIber

Kejahatan siber yang tumbuh pesat ‘memaksa’ masyarakat menjadi bijak. Apalagi berkaitan dengan keuangan dan data perbankan. Kejadian yang sering terjadi di masyarakat adalah social engineering (soceng).

Tentunya, ancaman soceng akan terjadi kapan, di mana dan untuk siapa saja. Oleh karena itu, dibutuhkan kewaspadaan dalam menjaga kerahasiaan data pribadi. 

Transaksi Online Aman

Berikut beberapa cara untuk mencegah soceng agar data tetap aman:

1. Waspada Membagikan Data

Untuk beberapa aplikasi umumnya meminta data pribadi yang harus diisi agar dapat menggunakan aplikasi tersebut secara online. Sederhananya yang sering kita temui adalah dalam aplikasi belanja online.

Tak jarang, masyarakat mengisi data dengan benar dan sesuai. Data-data pribadi tersebut tentunya dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Contohnya, penipuan, jual beli data, dimanfaatkan pihak lain untuk pinjaman online dan sebagainya.   

Oleh karena itu, diharapkan setiap masyarakat dengan bijak menjaga kerahasiaan data pribadi apalagi berkaitan dengan nama lengkap, tanggal lahir, alamat lengkap dan sebagainya. Jika ingin memberikan data harap diperhatikan platform, aplikasi atau website yang terpercaya.

2. Hindari Klik Link Sembarangan

Di beberapa grup WhatsApp sering sekali anggota grup membagikan link untuk di klik dengan iming-iming hadiah, promo, bantuan pemerintah, ketenagakerjaan dan sebagainya.

Tak sadar, kebanyakan orang tertarik untuk mengklik link tersebut dan masuk ke dalam perangkap dari penyebar link palsu. Alhasil, data yang terekam di smartphone atau tersimpan dapat diambil oleh pelaku kejahatan siber.

3. Jangan Mengunduh File Tidak Dikenal

Untuk beberapa kasus, masyarakat suka mengunduh file yang tidak dikenal. File tersebut dapat disisipi virus atau sistem yang dapat meretas perangkat. Sehingga jika ingin mengunduh file sebaiknya dari website terpercaya atau menggunakan perangkat yang tidak ada data pribadi atau khusus.

4. Two Factor Authentication

Sudah saatnya, masyarakat menggunakan two factor authentication yang bertujuan untuk mengamankan data. Ketika pelaku kejahatan siber (hacker) sudah mengatahui password dari akun maka akan mudah masuk dan mencoba mengambil data penting.

Kehadiran two factor authentication sangat penting sebagai lapisan keamanan untuk melindungi data diri. Selain itu dibutuhkan informasi lain seperti OTP, token pin hingga verifikasi lainnya dan membuat data pribadi semakin aman.

5. Verifikasi Email & Filter Spam

Salah satu yang harus diperhatikan dalam menghadapi soceng adalah mengamankan email dengan baik. Setiap cek email, perhatikan mana email yang mencurigakan dan berpotensi mengancam. Di samping itu, perlu adanya filter spam untuk mengurangi pesan masuk yang membahayakan.

6. Memasang Antivirus

Jurus terakhir yang dapat digunakan dalam menghindari soceng adalah memasang antivirus pada berbagai perangkat. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko dari dampak kejahatan siber. Apalagi saat menggunakan perangkat dengan internet tentunya antivirus sangat bermanfaat untuk mencegah penyalahgunaan dari pelaku kejahatan siber.

Berbagai jenis serangan atau kejahatan siber berupa social engineering mampu mengelabui atau memanipulasi korban atau nasabah dalam dunia perbankan. Apalagi pelaku kejahatan sering memikat pengguna dan tidak menaruh curiga terhadap kejahatan yang sedang dilakukan. Untuk itu diharapkan masyarakat waspada dan mampu menjadi Nasabah Bijak.

Pentingnya Jadi Nasabah Bijak

Sebagai nasabah dari BRI, tentunya saya dan orang tua pernah mendapatkan berbagai pesan melalui WhatsApp tentang Perubahan Tarif Transfer Bank. Awalnya, tidak menaruh kecurigaan terhadap pesan tersebut.

ATM BRI

Setelah diperiksa kembali ternyata nomor pengirim pesan adalah nomor pribadi maka dapat dipastikan bahwa pesan tersebut adalah palsu. Setiap kali tarik tunai di ATM BRI, terdapat informasi atau pengumuman tentang modus penipuan perubahan tarif transfer tersebut.

Bijak Berbelanja Online

Berbagai penipuan dapat terjadi apalagi untuk beberapa kasus yang sering terjadi di dunia online seperti berbelanja online. Untuk itu, setiap nasabah lebih selektif dalam memilih marketplace, lakukan pembayaran dengan kartu kredit atau e-pay BRI, rahasiakan kode OTP, nomor kartu, masa berlaku kartu, kode CVV/CVC, dan paycode transaksi.

Di samping itu, kita wajib mengganti password akun marketplace, sosial media dan email secara berkala dengan kombinasi yang tidak mudah di tebak. Hindari link yang dikirim ke pesan dan gunakan two step verification.

Bijak Berbelanja Online

Bijak Menerima Panggilan Telepon

Beberapa kali, saya pernah mendapat panggilan telepon dengan mengaku sebagai pegawai BRI. Pelaku menelepon dengan tujuan untuk memperbaharui data.

Saya diminta untuk menyampaikan data-data pribadi dan digiring ke pada kondisi bahwa pelaku adalah benar-benar karyawan dari BRI. Beberapa kali penelpon mengharapkan saya menyampaikan data penting.

Pada saat tertentu pelaku meminta untuk menginformasikan OTP dan PIN. Karena saya menyadari bahwa hal tersebut adalah penipuan maka pelaku pun menutup telepon tersebut. Untuk itu, nasabah sebaiknya berhati-hati terhadap telepon yang mengatasnamakan BRI apalagi sampai meminta data-data pribadi yang menyangkut perbankan.

BIjak Menerima Telpon

Bijak Menanggapi Hadiah Undian Palsu

Siapa yang tidak tertarik dengan hadiah? Pasti jika ditanya maka kebanyakan orang akan mau mendapatkan hadiah apalagi didapatkan dari bank.

Beberapa waktu lalu, kejadian ini juga menimpa sepupu saya yang dihubungi oleh pelaku dan mengaku karyawan BRI. Sepupu saya mendapatkan hadiah uang senilai Rp20 juta dari undian nasabah BRI.

Kerennya, pelaku seolah-olah mengarahkan dan menarik perhatian dari jumlah hadiah yang akan diberikan. Namun, sebelum hadiah di transfer, pelaku meminta sepupu yang merupakan nasabah BRI untuk mengisi data secara online.

Pelaku mengarahkan sepupu saya untuk mengisi data pribadi secara lengkap. Kemudian mengirimkan link untuk di klik dari pesan singkat. Selanjutnya, nasabah diminta untuk memberitahu kode OTP yang dikirim ke nomor telepon sepupu saya.

Sama halnya, dengan tindakan yang saya ambil maka telepon segera dimatikan karena sudah menyadari bahwa terjadi penipuan. Untuk itu, diharapkan nasabah lebih bijak dan tidak mudah tergiur dengan tawaran hadiah dan dipandu oleh pelaku untuk memberikan data penting.

Bijak Dalam Pinjaman Online

Dewasa ini, pinjaman online begitu pesat dan berkembang. Kebanyakan dari masyarakat menggunakan fasilitas tersebut untuk berbagai keperluan. Namun, tak jarang masyarakat atau nasabah malah tertipu dengan modus pinjaman online.

Apalagi pinjaman online yang menyatakan kerja sama dengan BRI sehingga mengatasnamakan BRI agar nasabah memberikan data-data. Limit pinjaman online yang ditawarkan biasanya cukup tinggi sehingga menggiurkan nasabah untuk mengambilnya. Ditambah dengan iming-iming bunga rendah, padahal banyak pinjaman online yang belum masuk ke OJK.

Nasabah diharapkan dapat bijak menyikapi berbagai pinjaman online yang dikirim ke pesan singkat atau WhatsApp. Jangan berusaha untuk mengambil pinjaman tersebut apalagi untuk keperluan yang tidak mendadak atau darurat.

Modus PInjaman Online ok

Bijak Saat Ke ATM

Salah satu kegiatan yang sering dilakukan dalam transaksi perbankan adalah bertransaksi di ATM. Untuk itu, diharapkan nasabah mencari ATM yang ramai atau tidak dalam kondisi sepi. Perhatikan situasi sekitar ATM, apakah terdapat orang-orang mencurigakan atau tidak.

Selanjutnya, card reader ATM terdapat barang mencurigakan atau tidak, selalu menutup tangan saat menekan PIN. Periksa transaksi atau mutasi secara berkala, blokir kartu ATM jika terdapat transaksi yang tak pernah dilakukan.

Pentingnya, mengganti kartu berbasis Chip, aktifkan SMS Notifikasi di kantor BRI dan selalu menghubungi contact BRI resmi jika terdapat masalah dan lain sebagainya.

Bijak ke ATM

Bijak Mengetahui Contact BRI

Sebagai nasabah BRI tentunya harus mengetahui beberapa hal penting terkait BRI seperti contact, sosial media, email dan lain sebagainya. Hal ini bertujuan agar nasabah lebih peka ketika terdapat panggilan telepon, pesan singkat, atau DM melalui sosial media.

Ketika mengetahui akun dan nomor resmi dari BRI maka kita tidak akan mudah terjebak dalam perangkap penipu. Akun palsu biasanya hampir mirip dengan akun resmi, sehingga terkadang harus jeli untuk memeriksa kembali pengirim pesan, panggilan telepon atau sosial media yang menghubungi. Berikut nomor dan akun resmi dari BRI:

Contact BRI

Sebagai nasabah yang tidak ingin dirugikan oleh pelaku kejahatan siber maka harus selalu update terhadap berbagai literasi yang menyajikan tips serta kiat untuk menghindari kejahatan siber atau virtual. Dewasa ini, Penyuluh Digital banyak menyajikan konten baik tulisan mau pun video yang mampu membantu masyarakat untuk lebih melek akan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai kejahatan secara online.

Sudah banyak korban yang terkena perangkap dari pelaku kejahatan. Harapannya dengan kehadiran berbagai penyuluh digital banyak masyarakat lebih hati-hati dan melakukan transaksi secara online.

Terkhusus untuk nasabah BRI dapat bergabung dengan mengikuti sosial media dari Nasabah Bijak melalui Facebook, Twitter, Instagram dan Tiktok. Kehadiran sosial media ini akan membantu masyarakat dalam menyajikan kewaspadaan melalui konten.

Hal ini bertujuan agar nasabah BRI terhindar dari begal rekening atau soceng. Sejauh ini saya sudah menerapkan dan selalu berhati-hati dalam melakukan transaksi secara online. Di samping itu, mengandalkan aplikasi dari BRIMO yang membuat transaksi jauh lebih aman dan nyaman.

BRIMO
Mudah Dengan BRIMO
Penggunaan BRIMO

1 Comment

Demia · September 22, 2022 at 1:31 pm

akhir akhir ini emang banyak berita mengenai kejahatan siber yaaa, modusnya juga rupa rupa yang pastinya ngerugiin dan nilai kerugiannya nggak sedikit, semoga kita selalu dilindungi dari kejahatan kaya gini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!