Dewasa ini perkembangan dunia digital sangat pesat, tentunya hal ini tidak terlepas dari revolusi industri 4.0. Serba online dan praktis menjadi jargon generasi jaman now.

Bersyukur ada efek positif dari semua serba online yaitu peluang kerja semakin bertambah di dunia maya. Misalnya penjualan barang dan jasa yang dilakukan melalui internet.

Sekarang tak perlu jauh ke tempat tujuan untuk membeli barang yang diharapkan, pesan melalui internet saja keesokan harinya barang sudah bisa ada di rumah. Promosi produk juga tak harus lagi di televisi yang konon katanya sangat mahal bayarannya.

Produsen saat ini cukup hubungi blogger atau content creator maka produk tersebut akan diulas soft review dan dipromosikan di seluruh media sosial. Hal ini dianggap efektif untuk membuat ‘gaung’ dari produk yang ingin dipromosikan.

Oleh karena itu, kebanyakan orang saat ini berbondong-bondong untuk menambah penghasilan melalui jasa seorang blogger. Bahkan ada yang rela berhenti menjadi karyawan kantor hanya untuk menjadi seorang blogger.

Kalau saya sendiri memilih profesi seorang blogger karena memang full time di rumah ngurus anak-anak dan suami. Selesai mengerjakan semua kebutuhan rumah maka langsung masuk ke dunia menulis.

Menjadi seorang blogger dan freelance writer adalah pekerjaan yang menyenangkan. Selain berbagi manfaat tulisan tentunya ada penghasilan di dalamnya, tujuannya untuk menambah pundi-pundi.

Nah, tentunya penghasilan yang diterima tidak tetap setiap bulannya. Berbeda saat beberapa tahun lalu saya bekerja menjadi karyawan, cash flow masih aman terkendali karena setiap awal bulan akan terima gaji.

Semua tak sama antara blogger/freelance writer dengan karyawan di sebuah kantor. Selain hal utama adalah penghasilan, maka yang kedua adalah kondisi kerja.

Kalau karyawan hanya bekerja di kantor atau kadang ke luar lapangan, tapi kalau blogger dapat bekerja kapan dan dimanapun. Bahkan saat berada di sekolah saat mengantarkan anak dapat ‘nyambi’ nulis artikel.

Belakangan ini setelah melahirkan anak kedua, ada perasaan bingung apakah kembali menjadi karyawan atau tetap menjadi blogger. Pasalnya, penghasilan yang diterima tidak lagi stabil (fix salary). Padahal, cicilan, biaya asuransi dan investasi harus dipenuhi setiap bulannya.  

Walaupun belasan tahun bekerja sebagai keuangan, tidak terpungkiri bahwa mengatur keuangan itu sedikit sulit. Mungkin karena ‘habit’ dari setiap orang berbeda-beda.

Apalagi saat ini penghasilan yang diterima naik turun. Bulan ini bisa dapat banyak eh bulan depan bisa tidak berpenghasilan sama sekali. Selalu terbayang dengan pengeluaran yang harus dibayar setiap bulan.

Jika menjadi karyawan ketika kita sakit maka penghasilan tidak dipotong, di awal bulan gaji tetap mengalir. Nah, kebayang kalau jadi blogger/freelance writer saat sakit maka kita tidak bisa mengerjakan permintaan klien atau mengikuti berbagai event/lomba, maka sama sekali tidak akan mendapatkan penghasilan.

“Seorang blogger yang tidak produktif maka tidak akan mendapatkan penghasilan dari internet.”

Lima bulan pertama menjadi seorang blogger, maka saya melihat fluktuasi penerimaan yang diperoleh lalu disandingkan dengan berbagai pengeluaran yang akan dihabiskan dari penghasilan tersebut.

Sebagai contoh berikut penghasilan yang pernah diterima:

    Bulan Januari

  1. Jasa review produk 1                                      : Rp200.000,-
  2. Jasa review produk 2                                     : Rp150.000,-
  3. Uang tunai hasil lomba blog                     : Rp3.000.000,-
  4. Hadiah berupa printer jual lagi                 : Rp4.500.000,-

            Total penghasilan                                             : Rp7.850.000

    Pengeluaran Bulan Januari*

  1. Asuransi Pendidikan Anak 1                      : Rp600.000,-
  2. Asuransi Pendidikan Anak 2                     : Rp800.000,-
  3. Asuransi Kesehatan Seluruh Keluarga : Rp320.000,-
  4. Biaya sekolah anak dan keperluan         : Rp600.000,-
  5. Tagihan bulanan (listrik, air, dll)            :  Rp200.000,-

       Total pengeluaran                                            : Rp2.520.000,-

            *Pengeluaran khusus penghasilan saya, kalau untuk penghasilan suami beda pos  pengeluaran.

Berdasarkan penghasilan yang diterima serta pengeluran bulanan maka saya masih memiliki saldo bulan Januari sebesar Rp5.330.000,- Nah, ceritanya berbeda lagi untuk bulan Februari:

      Bulan Februari1. 

  1. Jasa review produk 1                                          : Rp 300.000,-
  2. Review produk 2 tidak bisa di jual lagi    : Rp0,-
  3. Jasa review produk 3                                        : Rp250.000,-
  4. Uang tunai hasil lomba blog                        : Rp1.000.000,-

Total penghasilan                                                 : Rp1.550.000,-

Pengeluaran bulan Februari masih sama dengan bulan lalu yaitu Rp2.520.000,- Jika saya harus membayarkan semua pengeluaran dari penghasilan bulan Februari yang diterima tentunya tidak cukup. Oleh karena itu, mau tidak mau saldo/saving bulan lalu harus diambil.

Nah, hal ini akan terus berulang karena berkat rezeki tidak ada yang tau kapan datangnya. Bisa datangnya ‘keroyokan’ bisa juga enggak datang sama sekali. Agar tidak terjadi ‘lebih besar pasak daripada tiang’, maka dibutuhkan beberapa cara untuk menyiasatinya.

Tips berikut adalah pengalaman pribadi sebagai orang keuangan yang suka melakukan pencatatan setiap hari dalam sebulan. Memang masih jauh dari kata sempurna, namun tidak ada salahnya untuk mencoba.

Ini adalah tips pertama yang saya harus uraikan. Tanpa disadari banyak sekali manfaat melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran dalam sebuah rumah tangga. Apalagi seorang ibu sebagai bendahara rumah, tentunya harus memiliki pencatatan yang baik.

Pencatatan keuangan yang baik akan mengajarkan kita banyak hal seperti:

  1. Mengurangi kehilangan detail pengeluaran.
  2. Lebih hemat dikemudian hari.
  3. Strategi untuk perencanaan keuangan selanjutnya.
  4. Lebih mudah membuat keputusan keuangan.
  5. Data yang dibutuhkan perbankan saat blogger/freelance melakukan pinjaman.

Oleh karena itu, seorang blogger wajib memiliki pencatatan atas penghasilan dan pengeluaran yang didapat.

Seperti permasalahan blogger pada umumnya bahwa penghasilan itu tidak tetap. Kadang banjir job dan kadang sepi bahkan tidak ada penghasilan sama sekali.

Tips kedua adalah berusaha menghimpun dana cadangan sebanyak-banyaknya. Ingat bahwa dana cadangan berbeda dengan dana darurat.

Dana darurat adalah dana yang wajib dimiliki dalam rumah tangga. Semisal dalam sewaktu-waktu ada anggota keluarga yang sakit, walaupun sudah ada asuransi kesehatan tentunya ada pengeluaran tambahan yang cukup besar. Dalam hal ini, dana darurat merupakan pos penghasilan suami karena memiliki fix salary.

Dana cadangan adalah dana yang dikumpulkan apabila dalam bulan berikutnya penghasilan blogger/freelance tidak memenuhi maka diambil dari dana cadangan. Baiknya, besaran dana cadangan minimal 10x dari besarnya pengeluaran seorang blogger.

Jadi, kalau pengeluaran saya perbulan sekitar Rp2.520.000 maka setidaknya tabungan dana cadangan minimal Rp25.200.000,- Hal ini membuat rasa aman tersendiri bagi seorang pekerja blogger/freelance.

Mengevaluasi kembali jenis pengeluaran adalah hal terpenting. Hal ini bertujuan apakah pengeluaran yang dilakukan bermanfaat atau tidak. Jangan-jangan dana cadangan terus terkuras karena penghasilan blogger tidak maksimal untuk pengeluaran yang tidak bermanfaat.

Seyogianya, pengeluaran merupakan rata-rata terkecil dari penghasilan. Semisal, rata-rata pendapatan terkecil yang saya terima adalah Rp1.550.000, maka pengeluaran seharusnya tidak lebih dari nilai tersebut.

Jika contoh di atas pengeluaran saya perbulan adalah Rp2.520.000,- maka ada sekitar Rp970.000,- yang harus dikoreksi. Sehingga pos mana yang harus saya hapuskan atau alihkan ke pos pengeluaran suami.

Saya seorang pemilik kartu kredit dengan limit yang lumayan besar. Namanya juga wanita yang baru memiliki seorang bayi, maka akan mudah lapar mata kalau lagi jalan ke Mall atau Baby Shop.

Semua barang yang dianggap ‘lucu’ pasti diborong dan menggunakan kartu kredit. Alasannya, bisa dibayar bulan depan jika ada penghasilan tambahan. Nah, kalau enggak ada penghasilan baru deh ambil dari dana cadangan.

Setelah tiba di rumah, maka yang ada hanya tumpukan baju baru si kecil. Tanpa perhitungan ternyata dalam 2 bulan si kecil sudah memiliki bobot 7,2 kg. Alhasil, baju-baju yang sudah dibeli tidak terpakai dan menjadi barang pajangan.

Kebayang betapa sia-sianya dana tersebut untuk hal-hal yang memenuhi keinginan semata. Mau dijual lagi, harganya pasti turun jadi mau enggak mau dijadikan kado buat saudara atau teman yang habis lahiran dan itu terjadi mungkin setahun sekali.

Oleh karena itu, seorang blogger harus menghidari kata ‘keinginan’ dan mengutamakan kata ‘kebutuhan’. Jika tidak mampu menahan selera dalam berbelanja ada baiknya tidak membawa kartu kredit atau ekstrimnya tidak jalan sama sekali.

Susun rapi kartu kredit atau debit saat sedang online, karena tanpa sadar ada beberapa situs online shopping yang akan merayu-rayu. ‘Camkanlah’ karena blogger tak punya penghasilan tetap.  

Selain memenuhi pengeluaran bulanan maka seorang blogger harus belajar berinvestasi terhadap penghasilan. Selama ini, sebagian penghasilan sebagai blogger sudah disisihkan untuk pembayaran asuransi pendidikan anak.

Namun, asuransi saja tidaklah cukup. Seperti kita ketahui bahwa inflasi terus meningkat setiap tahunnya apalagi pendidikan naik 10%. Enggak kebayang saat anak kuliah sudah berapa ratus juta biaya yang harus dikeluarkan.

Nah, ada cara lain untuk berinvestasi seperti deposito, reksadana, pembelian aset tanah atau emas. Di mana dalam jangka waktu yang sangat panjang tentunya akan membuahkan hasil maksimal.

Selain asuransi pendidikan maka sudah memulai untuk berkebun emas pribadi. Caranya mudah banget, setiap bulan cicil 1 gram emas, kalau harga sekarang sekitar Rp600.000. Nah, setiap 6 bulan sekali baru deh ke toko emas cari LM atau perhiasan.

Lama kelamaan hasil ngeblog akan terkumpul dalam bentuk kilauan emas. Kalau memang memungkinkan dan sudah cukup banyak gr emas yang dibeli serta harga emas juga mahal sebaiknya dijual dan berganti ke aset tanah.

Kenapa tanah? Bahwa tanah tidak memiliki penyusutan karena harganya terus naik dari tahun ke tahun. Investasi dalam bentuk aset tanah juga baik jika kelak ingin menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Kalau memang biayanya kurang dari asuransi pendidikan maka tanah dijual dan bisa jadi uang kuliah atau modal usaha.

Ingat bahwa dana investasi adalah ‘disisihkan’ dan bukan ‘disisakan’. Saat ini mulai komitmen untuk menyisihkan Rp600.000/bulan. Tak melihat angka ini kecil atau besar namun angka ini pas untuk dijadikan investasi bagi blogger pemula seperti saya.  

Sekarang sudah serba digital maka apapun lebih mudah dan murah dilakukan secara digital. Dari dulu sebelum menikah saya sudah memiliki aplikasi keuangan secara digital, memang belum sesempurna aplikasi perbankan saat ini.

Oleh karena itu, sebagai blogger agar lebih mudah diatur serta dapat ditabung dan diinvestasikan maka carilah aplikasi keuangan/perbankan digital. Asiknya, kita dapat melakukan berbagai transaksi kapan dan dimanapun. Sama seperti pekerjaan blogger yaitu kapan dan dimanapun.

Tips yang terakhir dan pamungkas yaitu disiplin dan komitmen. Bagi kebanyakan orang melakukan 6 (enam) cara di atas secara teori mudah namun terkadang praktik-nya yang sedikit sulit.

Sebagai blogger tentunya kita tidak mau penghasilan yang didapat tidak meninggalkan jejak. Pasti merasakan betapa susahnya mengejar produsen agar dapat job review, agar memenangkan lomba blog sampai begadang bahkan enggak tidur.

Nah, kalau memang penghasilan itu sulit didapatkan, tentunya enggak ada salahnya kita mengatur dan memanfaatkan penghasilan tersebut dengan baik juga. Tips-tips ini harus dilakukan secara disiplin dan komitmen.

Bersyukurnya saya sudah melakukannya semenjak konsisten menjadi seorang blogger, karena enggak mau penghasilan yang dicari siang malam berlalu begitu saja untuk keperluan yang tentu tanpa ada perencanaan keuangan yang baik.

Demikian tips dari seorang blogger dengan latar belakang pendidikan keuangan dan selalu berusaha untuk disiplin dan komitmen terhadap perencanaan keuangan yang baik. Ya, malukan anak keuangan tapi uangnya lari enggak jelas kemana. 

    Categories: Blog

    49 Comments

    Mechta · March 8, 2019 at 5:02 am

    Wah saya jadi banyak belajar nih.. TFS ya mba.. selama ini tak pernah bikin catatan & hitung2an yg njlimet hehe.. padahal ini penting sekali ya.. ok. Fix mau belajar ah..

    Rosanna Simanjuntak · March 8, 2019 at 5:18 am

    Setuju!

    Mau kecil atau besar pendapatan, perencanaan keuangan memang diperlukan, agar bisa tahu kemana saja bermuaranya pos-pos pengeluaran kita.

      ardasitepu · March 8, 2019 at 3:08 pm

      Setuju mbak, muara pengeluaran yang terkadang tidak tahu lari kemana.

    Elly Nurul · March 8, 2019 at 3:50 pm

    Ya ampun mba.. baca tulisan ini jadi tambah semangat untuk memperbaiki keuangan sebagai seorang blogger.. sudah ada keinginan sih.. tapi masih belum dimulai juga hiks.. mumpung masih awal tahun, aku coba mulai bulan Maret ini untuk mencatat semuanya.. semoga jadi tambah jelas nih pemasukan dan pengeluaran keuangan dari hasil ngeblog.. aplikasi jenius keren juga ya mbak

    Eka Mustika · March 8, 2019 at 7:10 pm

    aku parah banget berarti ya, niat mau nyatat aja bl mada hahaha. Padahal penting banget kan ya. Terimakasih mba btw itu booth nya di medan fair sampai kapan yak hehehe soalnya aku bakal ke medan noh tanggal 17maret ini

    Yuni · March 8, 2019 at 8:31 pm

    Inspiratif banget nih mbak tips mengelola penghasilan blogger. Memang hrs seperti inilah caranya agar penghasilan dari pekerjaan sebagai blogger dapat dimonitor dan diketahui kemana saja keluarnya. Dan saya setuju dengan kalimat jangan mendahulukan keinginan tapi utamakan kebutuhan. Kalau kita nuruti keinginan pasti gak bisa ngerem untuk terus beli ini itu… Tapi kalau mikir kebutuhan, pasti kita akan berpikir untuk menabung dan membeli sesuatu sesuai kebutuhan.

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:23 am

      Hindari keinginan dan dahulukan kebutuhan. Semangat menabung 🙂

    Astin Astanti · March 9, 2019 at 12:09 am

    Mantaaap, seorang blogger sepertiku harus sering sering nih mrmbaca pengetahuan seperti ini. Saya baru pada tahap, memisahkan rekening job dari blogger dengan rekening operasional rumah tangga. Pengeluarannya hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadiku saja, ya ampun, jadi malu nih. Semoga dengan membaca artikel ini, semangat menulisku lebih terpacu lagi dan konsisten menulis. Tks Mbak

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:22 am

      Sama2 mbak, semangat melakukan perencanaan keuangan.

    Nunung Nurlaela · March 9, 2019 at 1:58 am

    Wah baru kepikiran mengelola penghasilan dari hasil ngeblog. Selama ini sih belum jadi fokus utama, karena ngeblog masih suka-suka, hehe. Btw, makasih informasinya, Mbak. Manfaat banget

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:22 am

      Semangat mbak nunung semoga tercapai ya.

    Ira Hamid · March 9, 2019 at 2:34 am

    Wahhh saya mau contoh cara Mba Arda berkebun emas ahhhh, Boleh juga nih, nyisihin 600rb/bulan dari hasil ngeblog untuk kemudian dibelikan emas biar hasil ngeblognya kelihatan 🙂

    Makasih tipsnya, Mba 🙂

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:21 am

      Sama2 mbak Ira, ayuk berkebun emas dari sekarang.

    Ira · March 9, 2019 at 2:38 am

    Sekarang aplikasi keuangan semakin banyak dan lengkap yaa, Mba. Sangat membantu untuk orang-orang yang gak tahu mengatur pola keuangan keluarga (seperti saya, hihihi). Makasih tps-tipsnya, Mba 🙂

    Bibi Titi Teliti · March 9, 2019 at 3:14 am

    Nah ini, kebiasaan buruk aku adalah suka males nyatet semua pendapatan dan pengeluaran, pantesan aja duit aku perasaan abis-abis mulu gak jelas ke mana juntrungannya hahaha.

    Wah asyik juga pake jenius yah mbak, pengen ikutan nyoba juga nih!

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:20 am

      Wah dulu aku juga seperti itu mbak, penghasilan dr blog ga jelas kemana. Sekarang udah jauh lebih baik.

    Heni Puspita · March 9, 2019 at 5:41 am

    Mulai bulan ini saya berusaha lebih disiplin mencatat pemasukan dari ngeblog.
    Biar lebih semangat dan lebih terkontrol penggunaan uangnya

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:20 am

      Semangat mbak, biar pemasukannya kelihatan 🙂

    Rach Alida Bahaweres · March 9, 2019 at 2:54 pm

    Aku makai Jenius ini juga dan merasa sangat terbantu dengan adanya Jenius. Pengelolaan uang menjadi lebih teratur ya mba 🙂

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:19 am

      Pengelolaannya jadi terbantu. Semangat mbak 🙂

    Indah Nuria · March 9, 2019 at 3:28 pm

    Kuncinya memang disiplin ya.. penghasilan dari blog atau bukan, semuanya perlu di manage dengan baik dan seimbang

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:19 am

      Disiplin dam penghasilan dr blog bisa buat investasi.

    lita chan lai · March 9, 2019 at 8:27 pm

    Wah hebat, penghitungan fee blogger tercatat semua. pengeluarannya juga buat investasi. keren banget….jarang lho ada yg kaya gini. jadi pelajaran baru buat aku nih.

    lita chan lai · March 9, 2019 at 8:30 pm

    Wah keren banget, pemasukan fee blogger tercatat dengan baik. pengeluarannya buat investasi sangat keren lho. jarang ada blogger yg detil menghitung pemasukannya. jadi pelajaran nih buat saya.

    April Hamsa · March 9, 2019 at 9:47 pm

    Memang yang namanya pemasukan dan pengeluaran kudu rajin dicatat ya mbak supaya tau bocornya ke mana aja sih.
    Btw saya juga pakai jenius, lbh mudah menabung/ menyimpan uang di snaa, begitu pula buat bayar2, lbh rapi keliatannya 😀

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:18 am

      Bener Jenius lebih gampang buat bayar dan nabung.

    Ika Puspita · March 9, 2019 at 11:04 pm

    Selama ini penghasilanku darinya blog, selalu bablas gitu aja. Paling sering buat belanja sih, hihi. Harus segera direm ini. Aku udah sering banget denger dari teman-temanku soal Jenius ini. Kayaknya pengen beralih juga deh ke Jenius

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:18 am

      Ayuk mbak, saya juga mau otentifikasi Jenius.

    Siska Dwyta · March 9, 2019 at 11:07 pm

    Iya mbak. Dana cadangan itu memang harus selalu ada. Apalagi kalau bekerja dengan penghasilan yang tidak menetap seperti jadi blogger. Btw Applikasi yang keren banget nih Jenius. Biaa membantu mengatur keuangan kita ya mbak.

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:17 am

      Iya mbak siska,ayo catet keuangan mulai dr sekarang.

    Siti hairul · March 9, 2019 at 11:33 pm

    Aku masih yradisional banget nih nyatat penghasilannya dari blogger. Biasanya kucatat di evernote aja. Jadi tertarik pake ini

    retno · March 9, 2019 at 11:59 pm

    thank ou sharingnya mbak, dulu udah pernah natet nyatet gitu, tapi gak konsisiten. Mungkin emang kudu dimulai lagi nih nyatet nyatetnya biar keuangan lebih terkontrol…

    Anne Adzkia · March 10, 2019 at 12:15 am

    Saya masih belum konsisten mencatat pengeluaran, masih sering jebol di akhir bulan dan mengambil dari tabungan keluarga. Hiks. Menjadi blogger yang produktif memang ke depannya peluangnya sangat bagus ya mbak. Bisa jadu sumber penghasilan rutin, tapi kuncinya selalu update dan rajin ikut lomba juga ya biar peluang makin besar.

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:16 am

      Iya mbak, harus ada perjuangan dan kelak menjadi blogger profesional.

    Lubnah Lukman · March 10, 2019 at 1:19 am

    Selama ini belum kepikiran untuk bikin perencanaan gini mba, pikirnya karena pemasukan masih cetek gini, tapi kenapa gak yah?? memulai secara profesional mendoakan yang datang juga bayarannya profesional… ahhhh… jadi semangat.. makasih mbaa…

    Diyanika · March 10, 2019 at 2:35 am

    Ya Allah ini mah pas banget dengan keadaanku, Mbak. Sejauh ini untuk penghasilan ngeblog juga kugunakan untuk hal2 yang sifatnya ditabung, Mbak. Ya pendidikan anak, nabung emas. Kudu disiplin sendiri memang. Kalau nggak ya bablas deh semua uangnya

      ardasitepu · March 11, 2019 at 4:15 am

      Disiplin adalah kuncinya mbak. Selamat berjuang 🙂

    Mporatne · March 14, 2019 at 4:02 am

    Pencatatan inilah yang bikin kita malas padahal hanya nulis tulis. Karena tidak terbiasa makanya harus belajar apalagi kita tidak berpenghasilan tetap. Jangan sampai bocor melulu .

      ardasitepu · March 17, 2019 at 2:28 pm

      Semangat untuk memulai pencatatan mbak. Semoga sukses ya.

    Hana Mariska · April 27, 2019 at 4:41 am

    Wah mantul bener sudah, aku belum stabil dari blogging

    Jeje · April 27, 2019 at 11:00 am

    Sangat menginspirasisekali mba,,, anda hebat. semoga aku bisa seperti mbanya

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    error: Content is protected !!