Setiap kali berbicara tentang Ibu maka air mata akan terus mengalir. Semenjak menjadi seorang Ibu, di situ makmil merasa bahwa perjuangan seorang Ibu tidak akan pernah hentinya sampai hembusan nafas terakhir. Jika dibandingkan dengan Ibu maka saya ini tidaklah dapat dibandingkan dengan Ibu atau nande sebutan saya.

Nande adalah sosok yang memang luar biasa. Apalagi dalam memasuki masa usianya yang mulai senja membuat saya selalu berpikir kapan lagi bisa membahagiakan ibu? Dan selalu berjuang hari lepas hari untuk tidak lepas berkomunikasi dengannya. Apalagi saat ini, dia hidup sendiri di mana Bapak tercinta sudah terlebih dahulu meninggalkannya dan kembali kepada Sang Pencipta.

Jika ditanya, mungkin sudah terlalu banyak perkataan atau tindakan yang melukai Ibu. Tanpa disadari sebagai anak kita terlalu sombong dengan apa yang telah kita raih saat ini. Melihat orang tua hanya manusia yang hidup di masa lalu tanpa mengerti apa yang terjadi saat ini. Padahal jika ditelisik lebih jauh ke belakang, air mata dan peluh seorang Ibulah yang membuat kita ada dan berdiri dengan berbagai fasilitas yang dimiliki saat ini.

Tidaklah mudah menjadi seorang Ibu, dia harus memendam berbagai rasa yang ingin dituangkan apalagi di usia senja. Tanpa disadari dia merasa tidak berguna lagi bahkan sudah merasa cukup dengan perjuangannya di masa lalu. Sang anak hanya bisa menuntut ibunya untuk lebih baik dan harus berpikiran logis di kehidupan masa kini.

Mana mungkin seorang ibu mampu melakukan banyak hal atau bahkan berpikiran logis lagi di saat kehidupan peliknya sudah berada di ujung episode. Untuk itu, kali ini makmil mau menyampaikan surat cinta untuk ibu yang selalu berjuang dengan cinta dan tidak ada kata putus asa dalam setiap langkah hidupnya terkhusus untuk anak-anaknya.

Dear Nande,

Sekitar tiga puluh tahun lalu, ragaku hadir di dunia ini diiringi dengan tangisan yang menghebohkan dunia.

Namun, aku tahu di hatimu ada kebahagiaan yang tidak terkira dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta hadirnya seorang anak perempuan melalui rahimmu.

Sejujurnya, memang tempat yang paling nyaman adalah rahimmu, karena aku merasakan pelukan hangat, bermain dengan bahagianya dan tak pernah merasakan kesusahan.

Saat bertumbuh di dunia, tangan lembutmu selalu siaga untuk menjagaku, menopangku bahkan selalu memberikanku motivasi.

Dirimu yang serba bisa adalah acuanku untuk selalu menjadi wanita yang serba bisa dalam segala hal.

Dari wajahmu tidak pernah terpancar keletihan, mungkin ada kekecewaan tapi tak pernah terlintas di bibirmu.

Nande, saat ini menjelang usiamu yang senja. Aku selalu berdoa agar selalu diberi umur panjang agar ada waktunya aku bisa membawamu ke sebuah tempat yang selalu diidamkan.

Maafkan anak perempuanmu yang mungkin sering melukaimu dan kurang memperhatikanmu. Berharap hatimu tetap tulus seperti merpati dan jiwamu selalu bahagia dalam keberadaan kami anak-anakmu. I Love You, Nde…

Categories: Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *