Teringat lima belas tahun lalu, saya berkata pada Ibu ingin mengambil kuliah jurusan kedokteran. Banyak alasan yang mendasari untuk memilih jurusan tersebut pertama suka dengan dunia medis, di samping itu seragam putih dan stetoskop yang digantung di leher itu terlihat keren.

Di sekolah, nilai eksakta juga memuaskan sehingga terpilih masuk kelas IPA. Banyak hal yang dipersiapkan menuju ujian nasional dan SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada masa itu.

Untuk mengejar cita-cita, maka tak menghiraukan siang atau malam pasti belajar dan menjawab soal-soal dan mengejar passing grade untuk masuk jurusan kedokteran. Namun, pagi itu sebelum pergi ke sekolah, Ibu berpesan: “Mungkin kamu bisa pilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan Ibu saat ini aja Nak.”

Rasa-rasanya pagi itu adalah pagi yang paling mendung semasa remaja. Masih ada dua adik lagi yang harus disekolahkan dan tidak mungkin gaji seorang guru Sekolah Dasar hanya dihabiskan untuk membayar biaya kuliah kedokteran yang sangat mahal.

Saat itu, saya hanya tersenyum pada Ibu dan sekejap membanting ‘setir’ berganti jurusan lain. Bagaimana mungkin menjelang hari – H mengganti semua jurusan dan memilih jurusan yang sesuai dengan budget keuangan keluarga.

Hati kecil tidak ingin menyalahkan siapapun pada saat itu, mimpi menjadi seorang dokter harus dikubur selamanya. Ibu juga bersifat rasional menyampaikan apa yang harus dipilih anaknya agar tidak menyesal di tengah jalan karena terhalang uang kuliah.

Akhirnya, belakangan Ibu menyampaikan penyesalannya yang tidak membuat tabungan pendidikan untuk anak-anaknya. Sehingga di saat akan kuliah maka Ibu pontang-panting mencari tambahan untuk biaya kuliah.

Walaupun tidak menjadi seorang dokter, saya sangat bersyukur dapat menyelesaikan perkuliahan di universitas yang didambakan. Bekerja sebagai konsultan perpajakan bertahun-tahun dan menemui banyak orang.

Pengalaman Ibu adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Terlebih saat ini memiliki dua orang anak yang masih balita. Tak mau menghentikan mimpi mereka kelak, maka saya mulai berbenah soal keuangan keluarga.

Memiliki latar belakang pendidikan keuangan maka tidaklah sulit bagi saya untuk merencanakan serta menyusun anggaran keuangan keluarga setiap bulan. Bahkan untuk mencapai saving maksimal segala daya upaya dilakukan termasuk berhemat.

Pasalnya, semenjak mengikut suami pindah kota maka saya memutuskan untuk fulltime di rumah dan mengatur sendiri kebutuhan rumah tangga tanpa ART. Otomatis penghasilan tetap yang diterima setiap bulan menjadi nihil.

Mirisnya, ada 2 (dua) jenis cicilan dengan nominal yang cukup besar setiap bulannya harus ditutupi. Oleh karena itu, berbagai macam jurus dilakukan agar tetap mengunci keran pengeluaran untuk barang/jasa yang tidak dibutuhkan.

Tak hanya diam melihat suami sendiri yang gigih memberikan penghasilan ke keluarga, maka saya mencoba untuk mencari tambahan penghasilan menjadi seorang blogger atau menulis artikel. Setidaknya, pekerjaan ini bisa menambah sedikit demi sedikit tabungan keluarga.

Enggak kebayang kalau saya hanya duduk diam dengan cicilan serta mimpi yang besar untuk anak-anak saya kelak. Oleh karena itu, selalu berjuang agar mampu mengumpulkan pundi-pundi dan dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga terlebih masa depan kedua buah hati saya.

Sebagai orang keuangan maka portal yang sering dibaca ya tidak jauh-jauh dari urusan uang. Salah satunya adalah Money Smart, mengenal situs ini sudah cukup lama dan suka mengulik isi artikelnya.

Selain menyegarkan kembali pikiran saya terkait berita keuangan juga memberikan memotivasi untuk memperbaiki keuangan secara terus menerus. Suatu ketika saya membaca sebuah artikel mengenai Asuransi Pendidikan yang ditulis di portal ini.

Bergegas memeriksa semua amunisi dalam mempersiapkan masa depan si kecil. Mulai dari tabungan dan jenis asuransi yang diikuti selama ini. Ternyata, saya kecolongan terkait asuransi pendidikan yang sama sekali belum dibuat untuk anak-anak.

Saya hanya memikirkan tabungan rencana pendidikan yang memang tujuannya untuk biaya sekolah kelak. Namun, ternyata ada Asuransi Pendidikan yang lebih efektif untuk mengimbangi inflasi untuk biaya kuliah di masa yang akan datang.

“Tabungan pendidikan umumnya memiliki bunga di kisaran tiga hingga enam persen per tahun. Sementara asuransi pendidikan karena alokasi dana berbentuk investasi, bunga yang didapat bisa berkisar 15 hingga 23 persen per tahun.” -MoneySmart-

Menurut lembaga ZAP Finance, bahwa peningkatan biaya pendidikan mencapai hingga 20% per tahun. Sedangkan jika tabungan pendidikan yang saya ikuti memiliki bunga yang tergolong kecil setiap tahunnya. Bahkan ancaman inflasi dapat menggerus nilai tabungan.

Sedari itu, kesadaran akan pentingnya asuransi pendidikan untuk si buah hati saat ini menjadi fokus utama. Bersyukurnya, dengan diskusi yang cukup alot bersama suami, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan buah hati kami dalam asuransi pendidikan.

Dalam menentukan asuransi pendidikan untuk si buah hati tidaklah mudah. Saya harus mempelajari produk serta nilai manfaat yang diterima kelak. Butuh waktu 2 (dua) bulan untuk riset, tanya sana-sini bahkan berkomunikasi dengan beberapa agen asuransi.

Hal ini bertujuan untuk mendapatkan jenis asuransi yang tepat, terpercaya serta tidak merugikan di masa yang akan datang. Di Indonesia sendiri terdapat dua jenis asuransi yaitu:

1. Dwiguna

Asuransi ini memberikan perlindungan di masa depan dan terdapat tabungan di dalamnya. Asuransi akan menjamin biaya pendidikan jika orang tua tidak dapat lagi mencari nafkah (meninggal/cacat). Manfaat yang diterima lebih mirip dengan tabungan berjangka.

2. Unit Link

Asuransi yang merupakan gabungan daru layanan asuransi dan investasi. Premi yang dibayarkan tidak hanya untuk pendidikan anak tapi juga dikelola dalam bentuk investasi. Jenis ini menguntungkan orang tua karena dengan membayar satu kali premi perbulannya, dua keuntungan sudah didapatkan.

Setelah menimbang dengan hasil manfaat serta risiko yang didapatkan maka kami memilih jenis unit link. Hal ini dikarenakan nilai investasinya cukup besar dalam jangka waktu yang panjang.

Di samping itu, hal sulit kedua adalah menentukan di mana dana tersebut akan diinvestasikan? Asuransi Pendidikan adalah jenis asuransi ketiga yang kami miliki setelah asuransi kesehatan dan jiwa. Oleh karena itu, saya berharap asuransi pendidikan memiliki provider yang baik dan terpercaya.

Dilansir MoneySmart cara yang tepat memilih provider asuransi pendidikan adalah berpengalaman, terdaftar dan informasi jelas. Tentunya, ketiga alasan ini menjadikan saya lebih ‘picky’ terhadap perusahaan yang menjajakan asuransi pendidikan.

Sesuai dengan beberapa rekomendasi dari MoneySmart, maka saya menjatuhkan pilihan saya pada Asuransi Pendidikan Mandiri. Perencanaan pendidikan melalui asuransi ini dikenal dengan perusahaan yang menaungi khusus asuransi yaitu AXA Mandiri. Khusus untuk pendidikan dikenal dengan sebutan Asuransi Mandiri Sejahtera.

Pilihan jenis unit link jatuh kepada Dynamic Money IDR yang memiliki nilai investasi dan bunga cenderung naik. Satu hal lagi, untuk pengurusan asuransi ini juga tidak terlalu lama serta kalau ada masalah terkait premi maka dapat langsung datang ke Mandiri terdekat.

Oleh karena itu, terkait asuransi pendidikan si buah hati – saya mulai tenang karena sudah mendaftarkannya dan semoga pada provider yang tepat. Ya, tinggal memikirkan untuk pembayaran preminya setiap bulan.  

Sebagai generasi  milenial yang mungkin saat ini memiliki bayi-bayi lucu dan anak yang lagi pintar-pintarnya maka memiki asuransi pendidikan adalah sangat penting. Pengalaman ‘pahit’ menjadi ‘cambuk’ agar saya terus fokus pada persiapan dana pendidikan. Nah, berikut 5 (lima) tips yang saya terapkan guna mencapai dana untuk asuransi pendidikan:

1. Sisihkan 3-5% dari Penghasilan untuk Asuransi Pendidikan

Salah satu komitmen sebagai orang tua yang kami pegang adalah menyiapkan dana pendidikan buat anak-anak. Sehigga salah satu pos pengeluaran pertama yang harus disisihkan dari penghasilan adalah dana pendidikan.

Karena saat ini memiliki 2 (dua) anak yang sudah memulai asuransi pendidikan, maka maksimal 5% per bulan, saya sudah menyisihkan uang untuk membayar premi bulanan. Beryukurnya, dana tersebut langsung di debit dari rekening sehingga tidak perlu repot untuk transfer atau sebagainya.

2. Gerakan Simpan Rp20.000/Hari

Semula saya menganggap gerakan untuk menabung atau menyimpan Rp20.000/hari adalah kegiatan yang biasa aja. Ternyata, konsisten melakukan gerakan ini, saya mampu menghasilkan Rp500.000 – Rp600.000/bulan. Bayangkan dari satu gerakan ini saja sudah dapat membayar premi 1 orang anak.

Kadang tanpa disadari dari uang Rp20.000 kita sering sekali menghabiskan untuk jajanan yang kurang berguna atau membeli barang yang belum tentu bermanfaat bagi rumah tangga. Namun, ketika uang-uang tersebut dikumpulkan maka memberikan manfaat yang luar biasa.

3. Memiliki Pembukuan Keluarga

Disiplin pembukuan sudah saya lakukan di awal berumah tangga. Hal ini mempermudah untuk melihat pendapatan dan pengeluaran atau cash flow. Di samping itu, kita juga dapat menilai mana pengeluaran yang efektif dan mana yang tidak.

Buku kas besar yang digunakan juga mampu mendisiplinkan kita dalam menyisihkan hal yang utama dan sampingan. Mengetahui mana pengeluaran yang mendesak dan tidak. Seperti contoh asuransi pendidikan, buku kas akan menjadi alarm untuk mendahulukan pengeluaran tersebut.

4. Mempersiapkan Daftar Belanja

Kegiatan ini mungkin terlihat ‘sepele’ bagi sebagian Ibu Rumah Tangga, namun ini menjadi penting untuk saya karena mampu mengendalikan naluri seorang wanita untuk berbelanja banyak barang. Daftar belanja mampu membuat saya fokus pada jenis apa yang harus dibutuhkan bukan diinginkan.

Kemudian daftar belanja juga mampu menghemat pengeluaran dan waktu belanja. Kita juga bisa memprediksi berapa uang tunai yang harus dibawa saat berbelanja.  

5. Menghilangkan Kebiasaan Pesan Makanan Online

Tips terakhir yang memang saat ini menjadi permasalahan ibu-ibu milenial adalah kebiasaaan memesan makanan secara online. Apalagi saat ini sudah terdapat banyak fitur yang memudahkan, hanya tinggal ‘tunjuk’ ke smartphone maka makanan yang diinginkan sudah tersedia di depan rumah.

Kebiasaan melakukan pemesanan makanan secara online adalah kegiatan pemborosan. Belum lagi, jenis sayuran atau lauk yang sudah dibeli di pasar akan tidak terpakai bahkan terbuang sia-sia. Apa salahnya selalu masak di rumah, selain hemat juga menghasilkan nilai gizi serta keamanan makanan yang dikonsumsi. Tentunya, kegiatan ini mampu mengurangi pengeluaran yang tidak efektif serta dananya dapat digunakan untuk menambah asuransi pendidikan si kecil.

Saya menikah dengan suami dengan usia di atas 25 tahun. Jadi jika membayangkan anak-anak saat kuliah nanti, maka kami mulai memasuki masa pensiun.

Enggak kebayang, jika saat memulai menapaki masa pensiun alias masa istirahat harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak. Oleh karena itu, seperti pribahasa “Berhemat-hemat dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Tentunya di masa tua kita ingin melihat anak-anak bahagia karena mereka memiliki pendidikan yang baik. Orang tua pun menjadi tenang tanpa ada rasa kuatir masalah biaya berkat asuransi pendidikan.

“The best preparation for tomorrow is doing you best today” H.Jackson Brown Jr.

Memiliki kebahagiaan di hari tua adalah impian semua orang. Oleh karena itu, sadar asuransi pendidikan sedini mungkin memberikan masa depan yang baik untuk buah hati kita.

Mama Milenial sudah punya asuransi pendidikan belum untuk buah hati? Saya sudah memulainya berkat #moneysmartmenginspirasi sekarang tinggal giliran kamu mom…

  1. Pengalaman Pribadi
  2. Website Money Smart
  • https://www.moneysmart.id/6-asuransi-pendidikan-terbaik-dan-keuntungannya/https://www.moneysmart.id/antara-asuransi-dan-tabungan-pendidikan-anak-mana-yang-lebih-baik/
  • https://www.moneysmart.id/benarkah-asuransi-pendidikan-unit-link-bisa-menjamin-masa-depan-anak/
  • https://www.moneysmart.id/duh-pilih-asuransi-pendidikan-atau-tabungan-pendidikan-ya-bandingin-yuk/

    3. Website Mandiri

  1. Dokumen Pribadi
  2. Istockphoto
  3. Google Image
  1. www.ardasitepu.com

Money Smart Social Media


12 Comments

Amir · April 16, 2019 at 3:21 am

Waow pasti bakal jadi anak pinter nih kayak Mamanya hehehe

IG @etaaray · April 16, 2019 at 2:36 pm

Belum kepikiran sama sekali ada asuransi pendidikan. Makasih infonya..

Joe Candra · April 16, 2019 at 3:51 pm

Wah bener banget, masa depan memang harus direncanakan sedini mungkin yess, Kak.

    ardasitepu · April 16, 2019 at 11:48 pm

    Iya bang. Karena anak anak juga punya hak untuk sekolah tinggi 🙂

Firmansyah · April 16, 2019 at 5:19 pm

Keren nih perencanaannya, Mbak. Semoga si kakak punya masa depan yang cerah dengan persiapan yang matang dari orang tuanya ya. Aaamiin.

    ardasitepu · April 16, 2019 at 11:47 pm

    Bersiap payung sebelum hujan mas firman hehe.

Inda Chakim · April 18, 2019 at 11:10 am

Salfok sama si dedek, manis benerrrr.
Mkasih mbk arda sudah ngingetin aku yang sampai hari ini blm juga nyiapin dana pendidikan buat bocil2. *tepukjidat. Btw abis baca ulasan dikau soal money smart, aku jd tertarik nih.

    ardasitepu · April 18, 2019 at 4:26 pm

    Hayuklah dicoba mbak untuk cari artikel di sini.

Keke Naima · April 18, 2019 at 12:49 pm

Hal pertama yang langsung diingat sama suami saya ketika memiliki anak adalah pendidikan. Makanya begitu anak-anak lahir yang langsung diurus sama suami adalah asuran si pendidikan buat mereka.

    ardasitepu · April 18, 2019 at 4:26 pm

    Setuju mbak, memang anak jadi prioritas utama khususnya untuk pendidikan.

Reyne Raea (Rey) · April 18, 2019 at 6:02 pm

Cantikkk bangettt si dedek, kayak mamanya versi mini heheheh.

asuransi pendidikan emang penting ya.
karena banyak impian anak terkubur karena biaya

jadi mempersiapkan dana pendidikan sejak dini itu penting 🙂

    ardasitepu · April 19, 2019 at 12:38 am

    Iya mbak, persiapkan sedini mungkin dan sebagai orang tua lebih tenang juga di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!