Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak cukup untuk tujuh orang serakah.

(Mahatma Gandhi)

KONDISI LINGKUNGAN HARI INI!

Setahun lalu, saya dan keluarga pindah ke Siantar. Kota kecil ini memiliki cuaca yang tidak terlalu panas di siang hari dan sejuk di malam hari. Sebelumnya, selama 6 (enam) tahun berada di Balige sebuah kota yang memiliki udara lebih dingin.

Sungguh nyaman tinggal di kota ini, masih banyak pohon rindang yang berada di tepi jalan. Sebagai pedestrian, berjalan di tengah kota atau saat berbelanja tidak terlalu gerah.

Memasuki tahun kedua, lambat laun udara di malam hari mulai kurang bersahabat. Pasalnya, udara yang terasa sejuk mulai memanas sehingga kenyamanan tidur pun mulai terusik.

Tak hanya saya, si kecil pun sudah mulai merasakannya. Alhasil, beberapa minggu belakangan kipas angin menjadi sahabat yang tepat untuk menemani tidur.

Apakah fenomena ini juga dirasakan oleh masyarakat yang berada di kota atau tempat lain? Menurut National Aeronautics and Space Administration (NASA), perubahan iklim secara global sedang terjadi saat ini. Hal ini disebabkan oleh kerusakan lingkungan yang cukup parah sehingga menimbulkan efek yang berdampak buruk bagi kehidupan manusia.

Para ilmuwan meyakini bahwa suhu global akan meningkat setiap tahunnya. Cepat atau lambat suhu meningkat tergantung bagaimana manusia mengelola lingkungan yang ada di sekeliling dengan baik.

Dampak kerusakan lingkungan yang sedang terjadi secara dunia adalah menyusutnya gletser, bongkahan es besar yang terbentuk di atas permukaan tanah. Peneliti menilai hilangnya es laut disebabkan oleh iklim yang berubah drastis sehingga kenaikan air laut sangat signifikan.

Tak hanya secara global, di Indonesia sendiri beberapa tahun belakangan terjadi kejadian efek dari kerusakan lingkungan yang memberikan dampak negatif hingga memakan korban jiwa:

1. Banjir

Dilansir media Kompas.com, 2 Januari 2020 menyatakan terdapat 7 (tujuh) daerah yang terendam banjir yaitu Bekasi, Jakarta, Tangerang, Bandung Barat, Bogor, Lebak-Banten dan Sikka-NTT. Banjir merupakan masalah yang sering terjadi di Indonesia terkhusus di ibukota.

Umumnya, banjir disebabkan meluapnya pembuangan air yang tersumbat oleh sampah. Tak jarang ditemui sampah bertebaran dimana-mana pasca banjir. Hal ini tentunya ulah sebagian besar manusia yang tidak bertanggung jawab. Alhasil, dampaknya dirasakan oleh banyak orang seperti kerugian harta benda bahkan memakan korban jiwa.

Kebiasaan memperlakukan sampah dengan benar sangat sulit dilakukan. Seperti contoh, membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi barang daur ulang, mengurangi konsumsi plastik dan sebagainya.

Di samping itu, masalah banjir untuk beberapa daerah disebabkan oleh penggundulan hutan. Pembalakan liar di Indonesia sudah menjadi rahasia umum. Ntah, untuk kepentingan apapun hal ini berdampak buruk untuk kelangsungan makhluk hidup.

Alhasil, tak jarang banjir bandang harus terjadi di beberapa daerah dikarenakan penggundulan hutan yang tak menentu. Kualitas dan kuantitas hutan menurun secara drastis sehingga kekuatan pohon yang biasanya mengikat air menjadi hilang. Ketika kuantitas air meningkat maka terjadilah banjir yang tak terhentikan.

2. Tanah Longsor

Dampak kedua yang sering dirasakan masyarakat Indonesia adalah tanah longsor. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akibat tanah longsor yang terjadi di Sukajaya di awal Januari 2020 lalu, tercatat 4.360 bangunan rusak, 11 jembatan putus, 55 titik ruas jalan putus dan ribuan jiwa harus mengungsi.

Tanah longsor bukanlah peristiwa yang terjadi dikarenakan hal yang instan. Namun, ada akumulasi penggundulan hutan melalui pembalakan yang tidak terkontrol sehingga begitu banyak kerugian yang harus dirasakan baik pemerintah maupun masyarakat.  

3. Kebakaran Hutan

Tahun 2019 merupakan tahun tersulit yang harus dialami oleh Indonesia dikarenakan kebakaran hutan besar terjadi. Dilansir dari Mongabay – Situs Berita Lingkungan, sampai dengan September 2019 kebakaran hutan dan lahan Indonesia mencapai 857.756 hektar. Bayangkan, ini bukan areal yang sempit akan tetapi sangat luas.

Peningkatan kebakaran hutan sangat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kebakaran hutan menyebar di bagian Sumatera mulai dari Jambi, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara. Tak hanya itu, sebagian besar Kalimantan pun mengalami hal yang serupa.  

Mirisnya, di samping arus panas yang terjadi menjelang akhir tahun 2019 juga disertai dengan pembukaan lahan oleh warga dengan cara membakar hutan. Tak hanya hutan yang habis pada saat itu, banyak satwa yang harus kehilangan tempat tinggal bahkan masyarakat khususnya anak-anak terancam ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Padahal hutan merupakan paru-paru bumi dan Indonesia adalah salah satu penyumbang oksigen dunia. Bayangkan jika hutan hampir habis, tak hanya berdampak buruk untuk Indonesia akan tetapi negara-negara yang mengharapkan kehadiran oksigen dari hutan Indonesia setiap harinya.

4. Pemanasan Global

Hal terakhir yang sedang terjadi saat ini dikarenakan kerusakan lingkungan adalah pemanasan global. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan karbon dioksida dan berkurangnya oksigen di permukaan bumi. Setelah penggundulan dan pembakaran hutan maka kadar oksigen menurun drastis.

Tak hanya itu, penggunaan barang-barang yang mampu merusak lapisan ozon membuat pemanasan global. Lapisan ozon memiliki fungsi menjaga suhu bumi tetap stabil namun fungsinya akan menurun jika lapisan tersebut rusak atau terjadi penipisan.

Umumnya, lapisan ozon menjadi tipis disebabkan oleh gas-gas seperti Chlorofluorocarbon (CFC). Bahayanya, industri dan rumah tangga masih banyak menggunakan gas tersebut. Secara sederhana, AC (Air Conditioner) atau kulkas menghasilkan gas CFC yang secara terus menerus merusak lapisan ozon.

Oleh karena itu, tanpa disadari setiap masyarakat berkontribusi ‘merusak’ lingkungan setiap harinya. Maka sangat disayangkan jika tidak ada kesadaran dini untuk meremajakan kembali bumi yang sudah renta ini.

Seolah kembali terusik dengan pernyataan dari Mahatma Gandhi bahwa bumi ini tidak cukup untuk 7 (tujuh) orang serakah. Saya mulai berpikir dan memperhatikan sekeliling rumah serta kegiatan yang dilakukan setiap hari. Apakah saya menjadi seorang penjaga bumi atau malah menjadi serakah sebagai perusak bumi?

Serakah dalam arti hanya memikirkan diri sendiri tanpa melihat generasi masa depan. Toh, generasi masa depan merupakan bagian dari keturunan dan kehidupan yang berkesinambungan secara terus menerus.

INDONESIA SEBAGAI MEGABIODIVERSITY

Dari jaman Koes Plus hingga hari ini, Indonesia sudah dikenal sebagai negara yang sangat kaya dan subur. Keanekaragaman hayati (biodiversitas) sudah diakui dunia sehingga menjadi negara yang diharapkan dalam menjaga kestabilan ekosistem dunia.

Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga menjadi habitat yang tepat untuk jutaan spesies flora dan fauna. Tanah yang subur dan curah hujan yang memberikan dampak positif bagi Indonesia maupun dunia.

Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia membuat sejumlah spesies flora maupun fauna hanya ada di Indonesia. Hal ini tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuk negara ini.

Namun, sebutan sebagai negara megabiodiversity mulai terancam ketika masyarakat mulai merusak bahkan mengeruk keuntungan daripada menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati yang dimiiliki. Seperti contoh, pemburuan satwa secara liar, pengambilan ikan dengan teknik yang mencemaskan bahkan merusak biota laut, pembalakan liar, industrialisasi modern yang tidak ramah lingkungan, dsb.

Tak hanya dalam bentuk kelompok, ternyata individu juga melakukan hal yang dapat merusak ekosistem secara cepat. Alhasil, untuk menjaga ekosistem, melestarikan bumi dibutuhkan kesadaran dini setiap orang yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara secara menyeluruh.

11 UPAYA PELESTARIAN BUMI UNTUK GENERASI MENDATANG

Membayangkan ‘ngerinya’ kondisi bumi saat ini maka sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) setidaknya belajar untuk berkonstribusi bagi lingkungan sekitar.  Upaya ini dilakukan bersama keluarga terkhusus anak-anak di usia yang masih dini. Harapannya kelak mereka dapat menularkan efek positif dan mampu melakukan pelestarian lingkungan.

Edukasi cinta bumi ini sudah mulai dilaksanakan dan berupaya setiap hari berinovasi agar lebih efisien dalam menggunakan berbagai produk keperluan rumah tangga. Di samping itu, berikut 11 (sebelas) langkah sederhana yang saya lakukan bersama anak-anak dalam upaya pelestarian bumi:

1. Menanam Tumbuhan/Pohon

Cuaca yang mulai memanas akhir-akhir ini, mendorong saya untuk menanam dan merawat berbagai jenis bunga di halaman rumah. Tak hanya itu, berbagai pepohonan juga sudah menjulang tinggi di sekitar rumah. Tujuannya sangat sederhana agar udara lebih ‘adem’ serta mampu menghasilkan oksigen setiap harinya.

Menanam dan merawat tanaman atau pohon ini dilakukan bersama anak-anak. Bahkan si kecil sudah mampu menanam berbagai jenis bunga dalam pot. Kegiatan ini memberikan kontribusi untuk mengurangi pemanasan global dan setidaknya mengganti kekurangan lahan hutan.

Semenjak aktif melakukan kegiatan ini, udara di sekitar rumah lebih bersih dan sejuk. Pemandangan juga lebih indah dengan berbagai warna bunga dan pepohonan serta mampu menyimpan air dalam tanah.

Diharapkan setiap IRT mampu memulai kegiatan ini karena mampu mencegah erosi, apalagi jika rumah berada di tempat ketinggian. Jika terjadi polusi udara maka pepohonan mampu menghalau agar tidak langsung menghampiri lokasi rumah dan sekitarnya.

Hal yang saya lakukan adalah mulai menanam tumbuhan yang disukai seperti bunga atau tanaman obat keluarga (toga). Untuk pepohonan dimulai dengan buah-buahan dan agar lebih rindang dapat menanam pohon cemara atau sejenisnya.

2. Mendaur Ulang Limbah Rumah Tangga

Tanpa disadari setiap hari rumah tangga menghasilkan limbah yang cukup banyak. Bayangkan jika limbah ini ditumpuk atau dibuang ke sampah maka akan menghasilkan tumpukan sampah yang tidak terhingga.

Padahal untuk limbah rumah tangga tertentu dapat didaur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat. Prinsipnya, jika dapat didaur ulang mengapa harus membeli barang baru. Oleh karena itu, beberapa barang bekas diolah kembali menjadi barang yang dapat dimanfaatkan bahkan bernilai.

Seperti contoh, kaleng bekas dapat dibuat sebagai tempat tabungan/celengan, plastik minuman kemasan dapat dijadikan tas, kartu bekas dibuat menjadi guci atau vas bunga, dan sebagainya. Barang-barang yang didaur ulang tersebut juga dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan jika ditekuni lebih lanjut.

3. Membuang Sampah Pada Tempatnya

Salah satu kebiasaan buruk yang sering dilakukan masyarakat adalah memperlakukan sampah tidak semestinya, seperti membuang sampah sembarangan. Tak jarang, masyarakat membuang sampah ke aliran sungai, parit dan tempat lainnya. Alhasil, saat curah hujan tinggi maka aliran air tersumbat dan meluap ke permukaan.

Ketika banjir datang maka semua masyarakat akan merasa kesulitan. Oleh karena itu, usahakan untuk membuang sampah pada lokasi yang sudah disiapkan.

Edukasi membuang sampah pada tempatnya juga diberikan kepada anak usia dini. Hal ini agar tidak menjadi karakter yang mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, fenomena membuang sampah sembarangan ini terdapat di mana saja baik kota maupun desa.

Sebaiknya, sampah dapat dipilah apakah akan ditanam atau dijadikan pupuk kompos alami yang berguna untuk berbagai tanaman. Di samping itu, upayakan untuk tidak terlalu sering membakar sampah karena berpengaruh buruk terhadap kondisi udara.

4. Memanfaatkan Penggunaan Kertas

Beberapa kali menemui kertas yang dibuang, padahal lembaran sebaliknya masih kosong. Amat disayangkan jika kertas tersebut tidak digunakan kembali untuk mencetak tulisan atau sebagainya.

Padahal jika ditelusuri, pembuatan kertas juga menghabiskan jutaan pohon setiap tahunnya. Sedari dini, saya membiasakan untuk mencetak hasil tulisan, tugas suami atau karya si kecil dengan menggunakan kertas bekas sehingga kertas tidak terbuang sia-sia.  

Di samping itu, untuk mengurangi pemakaian kertas atau konsumsi kertas, maka saya mulai mendaftar sebagai anggota perpustakaan daerah. Sehingga tidak harus membeli buku lagi dan juga berlangganan e-book secara online.

5. Menggunakan Keranjang/Tas Kain Saat Berbelanja

Beberapa waktu lalu, penggunaan plastik saat berbelanja di minimarket atau supermarket sudah dikenakan charge. Sehingga penggunaan plastik sudah dibatasi, namun hal ini tidak berpengaruh besar karena kebanyakan masyarakat masih senang berbelanja dengan kantong plastik.

Padahal jika membawa keranjang belanja atau tas kain maka akan menghemat pemakaian plastik. Tanpa disadari, bumi ini sudah sangat penuh dengan sampah plastik, mirisnya plastik terurai hingga ratusan tahun. Bayangkan, apakah generasi selanjutnya akan hidup di tengah sampah plastik? Hal ini yang disebut Mahatma Gandhi, apakah kita menjadi salah satu orang serakah yang hanya mementingkan kehidupan pada masa ini saja.

Beberapa tahun belakangan, beberapa paus mati dikarenakan menelan sampah plastik. Seperti di Italia, Filipina bahkan di Indonesia tepatnya di Wakatobi. Tindakan masyarakat yang terlalu boros menggunakan plastik serta membuang sampah-sampah tersebut ke laut menyebabkan hewan laut pun menjadi korban.

Bagaimana bumi serta segala isinya dapat terjaga dengan baik jika manusia tidak mampu membatasi keegoisannya? Hal sederhana membawa keranjang belanja/tas kain bahkan beberapa kotak untuk tempat belanjaan bukanlah hal yang sulit dan sampai hari ini saya melakukan hal tersebut. 

6. Mengurangi Penggunaan Tisu

Dimulai dari awal tahun 2020, saya dan keluarga sudah membatasi bahkan dalam waktu dekat memberhentikan pembelian tisu. Pasalnya, kecenderungan masyarakat menjadi boros dalam penggunaan tisu.

Sebagai contoh, jika sedikit kotor langsung memakai tisu dalam sekali pakai. Padahal, pembuatan tisu sama halnya dengan kertas yang juga menghabiskan jutaan pohon dalam setiap produksinya. Alangkah baiknya, menggunakan kain lap yang dapat dicuci dan digunakan kembali.

Mengurangi penggunaan tisu juga harus disiplin dari diri sendiri dan mengajak seluruh anggota keluarga untuk lebih menggunakan kain lap. Hal sederhana ini tentunya memberikan kontribusi agar semakin sedikit pohon yang dipotong dan lingkungan tetap terjaga. 

7. Menghemat Pengunaan Air & Listrik

Bersyukur tinggal di beberapa kota yang memiliki sumber air yang baik. Sehingga tidak pernah kekurangan air dan listrik dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika melihat beberapa daerah lain yang harus kekeringan dan mendapat giliran pemadaman listrik maka saya mulai mendisiplinkan diri untuk menghemat air dan listrik.

Memang sebagian masyarakat belum menyadari penuh akan pentingnya menghemat air dan listrik. Selain menghemat pengeluaran setiap bulannya, ternyata kegiatan ini juga mampu menyelamatkan bumi.

Pembangkit tenaga listrik yang digunakan masih menggunakan beberapa bahan bakar fossil yang dapat memicu pemanasan global. Jika setiap rumah tangga mampu menghemat listrik dan air maka pemanasan global akan melambat. Setidaknya, hal ini selalu diterapkan dengan mematikan lampu pada siang hari, menggunakan lampu seadanya pada malam hari serta memperhatikan kran air agar tidak terbuka walaupun setetes.

Cara sederhana lainnya adalah mencabut seluruh stopkontak, charger atau yang berhubungan dengan listrik saat tidak digunakan. Menggunakan lampu yang ramah lingkungan serta penggunaan alat elektronik yang memiliki daya kecil.

8. Menggunakan Produk Rumah Tangga Ramah Lingkungan

Sebagai IRT yang selalu menyediakan keperluan rumah tangga maka mulai selektif memilih keperluan yang ramah lingkungan. Seperti contoh, popok sekali pakai diganti dengan popok yang dapat dicuci. Kemudian, pembasmi nyamuk yang non CFC.

Di samping itu, tidak menggunakan steorofom untuk makanan. Mengurangi pembelian minuman botol plastik apalagi untuk air mineral. Oleh karena itu, diupayakan untuk selalu membawa air mineral kemana-mana.

9. Menjual/Mendonasikan Barang Rumah Tangga

Jika menyisir semua sudut rumah, tentunya terdapat pakaian, barang dan lainnya yang tidak dipakai lagi. Oleh karena itu, ada baiknya menjual atau mendonasikan barang tersebut agar lebih bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.

Terdapat prinsip sederhana yang saya dan keluarga lakukan adalah ketika membeli baju atau produk baru maka harus ada pakaian/barang lama yang ke luar dari rumah. Sehingga kondisi rumah tetap pas dan tidak menumpuk dengan barang-barang.

Seperti contoh, pakaian si kecil di masa bayi yang masih bagus dan layak digunakan didonasikan atau diberikan kepada calon ibu yang membutuhkan. Alhasil, pakaian tersebut dapat dimanfaatkan dan mengurangi konsumtif terhadap baju baru.

10. Menggunakan Transportasi Umum

Dewasa ini, masyarakat diminta untuk lebih memilih menggunakan transportasi umum. Hal ini bertujuan menghindari kemacetan dikarenakan volume kendaraan yang ‘membludak’ setiap harinya.

Ternyata memilih berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum lebih ramah lingkungan. Pembakaran bahan bakar dari kendaraan penyumbang karbon dioksida terbesar. Bayangkan, jika setiap hari ribuan kendaraan bermotor ada dijalanan dan membuang gas CO2 setiap harinya dengan kuantitas yang besar.

Menggunakan transportasi umum adalah kegiatan yang digunakan setiap melakukan aktivitas ke luar rumah, setidaknya mampu mengurangi gas CO2 dari kendaraan pribadi saya. Menariknya, dewasa ini transportasi umum pun sudah dibuat ramah lingkungan sehingga jika masyarakat sadar akan hal ini tentunya memperlambat pemanasan global yang sedang terjadi.

11. Membeli Barang Yang Dibutuhkan Bukan Diinginkan

Last but not least adalah kegiatan yang harus ditanamkan bagi setiap orang yaitu membeli barang yang dibutuhkan dan bukan diinginkan. Salah satu kehidupan masyarakat saat ini adalah senang berbelanja baik online maupun offline.

Kegiatan ini sudah tidak dapat dihindari lagi, apalagi bagi seorang wanita yang berperan sebagai Ibu Rumah Tangga. Masalahnya, berbagai barang/produk yang dibeli adalah keinginan semata. Padahal manfaat atau tujuan pembelian barang tersebut tidak ada.

Salah satu yang mendukung pelestarian bumi adalah berasal dari kedisiplinan diri untuk membatasi pembelian produk hasil industri yang tidak bermanfaat. Lebih baik belajar untuk mencukupkan diri dengan apa yang sudah dimiliki.

Seperti contoh, jam tangan yang berfungsi untuk menunjuk waktu. Nah, sebelum sadar pentingnya menjaga bumi maka saya berusaha untuk mencari model jam tangan terbaru untuk dapat dikoleksi. Sayangnya, beberapa jam harus berada di lemari bahkan kadang menjadi limbah rumah tangga.

Oleh karena itu, kegiatan terakhir yang selalu saya terapkan adalah memilih barang yang menjadi kebutuhan dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sehingga ke sebelas langkah sederhana yang saya lakukan dapat berkontribusi untuk menjaga lingkungan, serta keanekaragaman hayati untuk masa depan yang lebih baik.

Keberhasilan upaya pelestarian bumi dan keanekaragaman  hayati tidak hanya berasal dari individu akan tetapi dukungan dari berbagai instansi maupun perusahaan. Mulai dari sektor industri yang memahami pentingnya penggunaan bahan dan produk ramah lingkungan.

Di samping itu, sektor lain juga dapat mendukung upaya pelestarian bumi dengan program seperti yang dilaksanakan MSIG Asuransi Indonesia. Di mana sejumlah karyawan melakukan edukasi Kelas Kreatif Keanekaragaman Hayati MSIG Indonesia.

Induk perusahaan MSIG di Jepang juga sudah melakukan reforestasi di hutan suaka margasatwa Paliyan, Yogyakarta sekitar 14 tahun lalu. Hutan seluas 350 hektar semula tandus dan jarang ditemui pepohonan. Namun, setelah MSIG datang dan melakukan reboisasi maka saat ini Paliyan penuh dengan pepohonan rindang. Upaya ini dilakukan dalam mengembalikan fungsi hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia.

Melihat kondisi lingkungan akhir-akhir ini maka MSIG terus berupaya menciptakan dan mengajak masyarakat peka akan hal ini. Setiap orang memiliki kontribusi untuk menjaga bumi ini dari berbagai kerusakan yang terjadi.

Jika kerusakan lingkungan terjadi maka tak aneh, banjir, tanah longsor dan sebagainya akan muncul kembali. Sebagai perusahaan asuransi yang sadar akan lingkungan, MSIG juga memberikan kesadaran akan pentingnya untuk setiap masyarakat memiliki asuransi umum (asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda).

Nah, jika individu dan instansi atau perusahaan bergandeng tangan untuk melakukan upaya pelestarian bumi maka harapannya generasi mendatang akan selalu hidup dengan udara bersih dan tesmpat tinggal yang nyaman. Upaya-upaya sederhana yang saya lakukan semoga dapat dilakukan secara bersama dan konsisten untuk bumi yang lebih hijau. Kalau kamu, upaya apa yang sudah dilakukan untuk menjaga lingkungan untuk anak cucu nanti?

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Penulisan Blog Kampanye Keanekaragaman Hayati MSIG Indonesia. 

Untuk lebih mengenal MSIG lebih lanjut silahkan berkunjung ke medsos MSIG di bawah ini:


52 Comments

Reyne Raea · February 1, 2020 at 12:47 pm

Pelestarian bumi memang penting banget kita lakukan, sedih aja gitu memikirkan apa yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang, kalau sekarang kita malah membiarkan bumi semakin rapuh.

Membeli barang yang dibutuhkan bukan diinginkan juga salah satu usahanya ya, biar nggak berakhir jadi sampah aja 🙂

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:01 pm

    Iya mbak, saya ngeri sendiri kadang melihat bumi saat ini. Bagaimana anak cucu kelak?

Helena Magdalena · February 2, 2020 at 9:12 am

Langkah2 sederhana yg bisa kita buat utk bumi yang lebih baik ya. Yg terakhir lebih mindfull, ujung2nya emang balik ke apa yg kita butuh bukan apa yg kita inginkan…

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:02 pm

    Iya bener banget le, apa yang kita butuhkan bukan inginkan.

thya · February 2, 2020 at 2:49 pm

wah, keren banget upaya2 yang udah mba arda lakuin. semoga dgn upaya tsb, bisa membantu untuk menjaga bumi dari kerusakan ya mbaa.. dan semoga makin banyak masyarakat yg sadar untuk melakukan hal2 sederhana seperti mba arda, demi menjaga bumi dan lingkungan

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:02 pm

    Iya mbak belajar untuk konsisten melakukan ini semua.

Dewi Sulistiawaty · February 2, 2020 at 5:26 pm

Penting banget nih, untuk semua masyarakat tahu betapa pentingnya menjaga lingkungan. Kalo dibiarkan, lama-lama bisa hancur bumi ini, dan efeknya ke manusia juga.

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:02 pm

    Iya mbak kudu belajar lagi untuk menjadi manusia yang cinta lingkungan.

Uniek Kaswarganti · February 2, 2020 at 9:25 pm

Manusia memang memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sekecil apapun upaya yang dilakukan, jika dilakukan secara bersama-sama, tentu hasilnya akan baik untuk bumi tercinta.

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:03 pm

    Iya mbak jika dilakukan secara bersama akan menghasilakn efek yang luar biasa.

Elly Nurul · February 3, 2020 at 1:54 am

Jleb banget kesimpulannya mbak, membeli barang sesuai kebutuhan bukan keinginan huhu.. aku nih kadang masih suka khilap, beli barang karena emang lucuk dan belum punya.. padahal ya ngga butuh butuh banget, dan jadinya menumpuk ngga terpakai.. well noted mbak, kesadaran dari diri sendiri dulu emang harus dijalankan, dan nantinya anggota keluarga dirumah akan mengikuti aksi baik yang kita lakukan untuk pelestarian bumi ya

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:03 pm

    Sama mbak, aku dulu juga begitu tapi sekarang sudah membatasi diri.

Sri Al Hidayati · February 3, 2020 at 2:36 am

Wah, senang sekali membaca artikel ini. Jadi ada ide ibu rumah tangga yang bisa dilakukan untuk melestarikan alam lebih baik. Pengen coba mendaur ulang limbah rumah tangga, dan coba mencintai berkebun ^^

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:04 pm

    Iya mbak aku terus belajar biar bisa mengolah atau daur ulang limbah rumah tangga.

Heni Puspita · February 3, 2020 at 3:00 am

Kalau di sekolah anak sudah lebih gencar tentang mengurangi/menghindari kemasan sekali pakai. Jadi jual jus atau teh pakai gelas. Nggak boleh ada air mineral kemasan juga. Anak2 juga bisa menabung di bank sampah. Taman2 dibuat dari barang bekas seperti ban, botol, sepatu boots. Trus kakak2 kelas atas mengumpulkan jelantah dr ibu2 wali murid untuk dibuat sabun minyak jelantah. Poin2 di atas juga keren2 banget Mba. Sudah urgent bagi kita u ubah pola or gaya hidup jadi lebih ramah lingkungan

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:04 pm

    Iya mbak bank sampah bisa ditanamkan semenjak dini agar anak-anak lebih peduli lingkungan.

Siti Hairul · February 3, 2020 at 3:25 am

Aku sekarang kemana-mana bawa tas belanja yang praktis. Tinggal diselipin di dalam tas. Membantu banget nih tas kain untuk belanja.

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:05 pm

    Iya mbak praktis dan bener ramah lingkungan banget kalau bisa mengurangi plastik.

Dawiah · February 3, 2020 at 3:25 am

Lengkap banget mbak informasinya. Bumi memang harus segera dilestarikan, bukan demi masa kini tetapi lebih ke masa mendatang.
Sat dari sekian tipsnya yang masih susah saya lakukan adalah penggunaan tissu, suka bersin kalau pakai lap kain.

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:05 pm

    Bumi untuk generasi saat ini dan masa akan datang jadi kita tidak bisa serakah mbak.

Syarifani Mulyana · February 3, 2020 at 3:54 am

11 Langkah sederhana pelestarian bumi bila dipraktikkan terus menerus akan berdampak bagus di kemudian hari.
Dan bener, sebagai IRT harusnya yang memulai supaya keluarga juga lebih aware tentang lingkungan dan di tingkat RT harus ada sosialisasi terus menerus tentang mengolah sampah menjadi barang yang bisa didaur ulang dengan mudah

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:06 pm

    Iya mbak semoga bisa jadi yang terbaik dan dapat dilakukan semua ibu rumah tangga mbak.

lendyagasshi · February 3, 2020 at 4:13 am

Pangling sama kak Arda.
Isu mengenai lingkungan ini memang urgent banget yaa..
Melihat fenomena alam dan lingkungan yang polanya selalu sama setiap musim hujan datang.

Rini Novitasari · February 3, 2020 at 10:46 am

Mengurangi penggunaan tisu ini susah bgt.. Terlihat sepele tapi aku masih susah nglakuin eh mbak. Ya ampun.. Terasa tertampar

Makasih pencerahannya mbak arda..

    ardasitepu · February 3, 2020 at 6:06 pm

    Ayuk mbak belajar untuk menghemat dan tidak menggunakan tisu lagi.

Citra · February 4, 2020 at 12:37 am

Poin terakhir masih rada susah ini untuk aku.. membeli barang yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Mesti dicoba neh di tahun 2020

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:00 pm

    Iya mbak, poin terakhir ini yang buat aku selalu belajar mbak.

Ida Raihan · February 4, 2020 at 1:05 am

Sudah semakin ngeri saja ya Mbak melihat kondisi bumi ini. Sampah berserakan di mana mana. Semakin merasa bersalah dengan nyampah setiap hari

    Diah Alsa · February 5, 2020 at 12:39 am

    Harusnya sih semua orang udah harus sadar akan hal ini. Keberlangsungan bumi ini kan tanggung jawab bersama ya, klo bukan kita yg merawatnya siapa lagi kan ya, huhuhuh.
    saya jg masih terus berusaha nih untuk bisa turut serta dalam pelestarian ini. Semoga kita semua dimudahkan ya dalam usaha ini 🙂

      ardasitepu · February 10, 2020 at 4:01 pm

      Bener mbak kalau tidak kita siapa lagi. Jadi harus semangat menyelamatkan bumi ini.

Okti Li · February 6, 2020 at 3:54 pm

Sering berantem sama tetangga gara gara mereka tidak suka dengan pohon yg kami tanam di halaman kami.
Sering dimusuhi warga kampung karena kami melarang mereka buang sampah ke sungai.
Banyak hal yg kami lakukan demi kelestarian alam tapi sebaliknya masyarakat setempat menolak

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:01 pm

    Saya juga suka berantem mbak kalau ada yang buang sampah sembarangan.

Dian Restu Agustina · February 7, 2020 at 3:12 am

Beberapa aktifitas di atas sudah saya lakukan…semoga konsisten saja. Dan yang belum segera saya lakukan juga. Karena kalau tidak dari diri sendiri siapa lagi kalau bukan sekarang kapan lagi. Kita semua berkewajiban mengupayakan kelestarian bumi untuk generasi nanti

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:02 pm

    Iya mbak, konsisten adalah kunci keberhasilannya.

Jeanette Agatha · February 7, 2020 at 1:59 pm

Pelestarian bumi ini memang harus terus disosialisasikan, demi masa depan bumi kita.
Upaya2 utk melestarikan juga harus dilakukan konsisten. Aku masih sulit mengurangi penggunaan tissue
Kadang lebih suka bebersih dapur menggunakan tissue, karena ga mau repot cuci kain yg kena minyak

Semoga aku bisa lbh konsisten utk menjalani setiap upaya utk melestarikan bumi

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:02 pm

    Iya mbak bahaya banget memang tisu dipakai dengan terus menerus.

Dian · February 8, 2020 at 4:16 am

Klo manusia bisa menjaga kelestarian lingkungan, pasti kita juga tdk akan mengalami banyak bencana ya

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:02 pm

    Setuju banget mbak agar bencana semakin berkurang.

Grandys Mawarni · February 8, 2020 at 11:34 am

Yang dituliskan oleh mba Arda itu semua noted banget, apalagi bisa dimulai dengan menjaga tidak membuang-buang penggunaan air

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:03 pm

    Aku banget dulu boros banget pakai air tapi sekarang sudah jauh-jauh mbak.

Sapti nurul hidayati · February 8, 2020 at 11:51 am

Memang upaya menjaga lingkungan harus melibatkan banyak pihak. Selain individu maupun pemerintah peranan pihak swasta untuk memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan sangat diperlukan, seperti yang sudah dilakukan MSIG

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:03 pm

    Iya mbak semua pihak berpartisipasi dalam menjaga lingkungan agar tetap asri dan memang tetap hijau sampai nanti.

andiyani achmad · February 8, 2020 at 1:54 pm

harus banget nih dilakukan sama semua orang, termasuk aku, 11 upaya pelestarian bumi yang di share dalam blog ini

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:04 pm

    Iya mbak dimulai dari sekarang dan memang bagus kalau kita eksekusi segera.

Hida · February 8, 2020 at 9:08 pm

Wah suka neh dengan kata-kata membeli barang itu sesuai dengan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan. Ehmmm aku masih suka gitu beli berdasarkan keinginan.

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:04 pm

    Huhu sama banget sama aku mbak, tapi sekarang sudah berkurang sedikit mbak.

April Hamsa · February 10, 2020 at 3:24 am

Sayangnya di Indonesia ini edukasi membuang sampah mulai dr yang terkecil aja misal memisahkan sampah basah dan kering blm dilakukan. Mungkin anak2 udah diajari teorinya di sekolah, tapi di rumah pas kembali praktiknya ortunya gak menerapkan. Jd anak susah praktik. Butuh dukungan dr banyak pihak ya mbak supaya bisa menyelamatkan generasi mendatang.

    ardasitepu · February 10, 2020 at 4:05 pm

    Iya mbak, aku juga sudah ajari anak-anak sedari kecil mbak agar terbiasa.

      Wisata Halal · February 14, 2020 at 11:24 pm

      Kesadaran untuk tidak buang sampah sembarangan masih kurang

Wian · February 13, 2020 at 5:01 am

Sedih banget deh klo denger berita tentang nencana alam dimana-mana. Bener ya mba, untuk menjaga bumi sebenarnya bisa dimulai dari lingkungan rumah. Gak perlu nunggu melakukan hal-hal besar.

Monica Anggen · February 16, 2020 at 9:30 am

11 upaya pelestarian bumi di tulisan ini bagus banget untuk mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ya demi menjaga bumi agar tetap lestari, lingkungan terjaga, dan bisa mengurangi polusi dan sampah juga. Coba seandainya setiap orang, termasuk saya, melakukannya, otomatis tak ada lagi tuh yang namanya sampah menumpuk di pinggir kali gitu ya, kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=WJGukaelgaTyJndrjWp_6NB2YJ137Z2_0eaL95IoluM
error: Content is protected !!